Journal

‘Mencicipi’ LRT Kuala Lumpur

Wahh. Sudah lama saya tidak mengupdate pengalaman ketika berkunjung ke Malaysia. Cerita yang saya tulis ini sebenarnya pengalaman bulan Juli lalu. Berhubung masa produktif menulis saya terganjal akhir-akhir ini, jadi molor sampai sekarang. Hehee..

Setelah dua hari menyambangi Thailand dengan mobil, saya kembali lagi ke Kuala Lumpur, Malaysia. Target saya pada hari itu adalah mengunjungi Menara Petronas. Yah, ada yang mengatakan kalau belum mengunjungi Menara kembar tersebut, berarti belum ke Malaysia. Hehe. Bagi para pelancong yang baru sampai di Kuala Lumpur, untuk pergi ke Menara Petronas caranya sangat mudah. Kalau dari terminal KL sentral, untuk pergi kesana cukup dengan naik LRT (Light Rail Transit) dan turun di Stasiun KLCC. Berhubung waktu itu saya sudah tinggal di Kuala Lumpur selama beberapa hari, saya tidak perlu menuju ke KL Sentral, kebetulan Ruma Bang Fazli (tempat saya menginap) lumayan dekat dengan Stasiun (di Malaysia Stesyen) LRT Kerinchi. Cukup berjalan sekitar 10 menit melewati kawasan perkantoran Bangsar South City, saya sudah sampai di Stesyen LRT Kerinchi. Jika tidak mau berjalan jauh jangan khawatir, di Jalan Raya dekat tempat saya menginap ada Bas (Bus) yang melintas setiap beberapa menit sekali, langsung menuju ke Stasiun Kerinchi.

Saat ini di Asia Tenggara ada empat negara yang memiliki Moda Transportasi Cepat (Mass Rapid Transit) atau MRT yaitu Philippina, Singapura, Thailand, dan Malaysia. Philippina sudah membangun MRT sejak pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos (sekitar tahun 1970), disusul Singapura, Thailand, Malaysia. Hanya saja, di Malaysia moda transportasi cepat ini disebut LRT, bukan MRT karena daya angkutnya tidak sebanyak MRT. Tapi keduanya sama-sama moda transportasi berbasis rel.

Gambar diatas adalah peta jalur LRT di Kuala Lumpur. Saat ini terdapat dua jalur LRT yaitu Laluan Kelana Jaya (jalur berwarna pink) dan Laluan Ampang (warna kuning), sedangkan warna oranye adalah jalur monorel. Nahh lo.. makin bingung saja, ada MRT, LRT, dan Monorel. :p. Berdasarkan info dari Wikipedia, Kereta konorel adalah kereta dengan jalur rel tunggal, tidak seperti kereta biasa yang relnya berjumlah dua. Sehingga ukuran kereta lebih lebar dibandingkan dengan relnya sendiri karena terdapat bagian kereta yang’mencengkeram’ rel., sedangkan kapasitas angkut monorel sendiri tidak sebesar LRT, apalagi MRT.

Ini adalah penampakan stesyen Kerinchi di pagi hari. Mesin di sebelah kiri adalah mesin penjual tiket otomatis, sedangkan mesin warna kuning di sebelah kanan itu khusus untuk pelanggan kartu Touch n Go. Di Malaysia penggunaan satu kartu untuk pembayaran transaksi sudah populer, Touch n Go ini semacam salah satu operator penyedia jasanya. (seperti operator selular di Indonesia), kartu ini bisa dipakai untuk macam-macam transaksi, termasuk tiket kereta dan biaya masuk jalan tol (Lebuhraya).

Lagi-lagi kecanggungan saya dimulai disini, baru kali ini saya menghadapi mesin penjual tiket otomatis, meskipun malam harinya saya sudah diberi tutorial oleh Bang Fazli, saya masih bingung mengoperasikannya untuk pertama kali. Yah, terpaksa trial and error.. Hehe. Dengan penuh keyakinan saya mulai mengutak-atik mesin touchscreen tersebut, mula-mula saya memilih bahasa Inggris untuk bahasa layanan, bukan bahasa Melayu. Meskipun saya tahu sedikit bahasa melayu, kadang ada beberapa istilah yang kedengarannya sama, tapi artinya jauh berbeda dengan bahasa Indonesia, jadi saya pilih bahasa Inggris, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah memilih bahasa, saya memilih stasiun tujuan, saya mencari-cari beberapa saat dan menemukan stesyen KLCC di laluan Kelana Jaya, biayanya 2 Ringgit. Sejauh ini lancar, sampai saya memasukkan uang untuk pembayaran, di mesin penjual tiket ini, para pengguna LRT bisa membayar dengan wang syiling (uang logam) dan uang kertas. Berhubung tidak ada wang syiling di dompet, saya bayar menggunakan uang kertas pecahan 1 Ringgit dua lembar. Baru akan memasukkan satu uang kertas, ternyata uangnya tidak mau masuk. Wahh, gawat. Dugaan pertama saya mungkin uangnya kusut, saya ganti dengan uang lain, masih saja tidak berhasil. Akhirnya saya memutuskan meminta bantuan kepada orang yang kebetulan lewat, baru hendak meminta tolong ke salah satu dari mereka, orang tersebut hanya memandangi saya keheranan dan terus saja melajutkan langkahnya (mungkin saya dikira perampok ya -_-), untugnya orang kedua yang saya mintai tolong, seorang Ibu separuh baya bersedia membantu, dan uang saya masuk dengan sukses. Rupanya kalau memasukkan uang, posisinya harus mepet di kiri lubang, sedikit ke tengah, uangnya tidak mau masuk.. :p. Setelah proses transaksi selesai, ada bunyi gemerincing di dalam mesin. Rupanya itu adalah bunyi token (semacam koin dari plastik). Token ini yang dipakai untuk akses masuk ke dalam palang pintu menuju LRT.

Pada palang pintu, terdapat lubang untuk memasukkan token. Tapi ingat, jangan terburu-buru untuk memasukkan token, kalau kita hendak naik cukup gosokkan token ke sensor di palang pintu, maka palang pintu akan terbuka. Token baru dimasukkan ke dalam lubang setelah kita sampai di stasiun tujuan.

Ketibaan (Kedatangan) LRT bisa dipantau di timer yang terdapat di stasiun, sedangkan LRT sendiri lewat setiap beberapa menit sekali. Jadi tidak ada penumpang yang menunggu terlalu lama. Seperti halnya di tempat umum lain di Kuala Lumpur, kereta LRT Malaysia bersih, saya tidak menjumpai seonggok sampah pun di dalamnya ketika itu, ada tempat duduk khas (khusus) untuk lansia, penyandang cacat (di Malaysia disebut OKU atau Orang Kurang Upaya), dan ibu hamil. Sayangnya ketika saya ada di kereta tempat duduk tersebut sudah diisi oleh Anak-anak muda seumuran saya, ada juga yang diduduki oleh Bapak-Bapak. Ternyata ada juga orang yang melanggar peraturan disini :p. Setiap berhenti di stesyen, selalu ada bunyi sirine dan dikuti oleh suara wanita dengan logat melayu yang khas, “Stesyen berikutnya, Abdullah Hukum. Next Station, Abdullah Hukum”.

Di dalam kereta juga ada gambar jalur kereta dan stasiun pemberhentiannya. Jadi penumpang bisa memantau kapan mereka harus turun. FYI, kalau penasaran dengan masinis yang mengendalikan laju kereta disini, jangan harap bisa menemukannya, karena kereta LRT berjalan secara otomatis :D. Jadi ketika gate membuka, menutup, dan suara pengumuman tersebut, semuanya dikendalikan oleh mesin. Heheee..

Sampai di stesyen KLCC, saya turun, begitu pula dengan beberapa penumpang lain. Di palang pintu saya masukkan token dan palang tersebut langsung membuka. Stesyen KLCC lebih luas daripada Stesyen Kerinchi, di dinding saya mendengar suara seperti kertas digulung, ternyata itu adalah papan iklan yang tampilannya berganti-ganti (di Indonesia belum ada nih.. Hehe). Dan berbeda dengan stesyen Kerinchi yang merupakan elevated station (Stasiun melayang atau di atas tanah), Stesyen KLCC dibangun di bawah tanah. Jadi saya harus naik tangga untuk keluar stasiun. Begitu melihat ke luar, Menara Petronas sudah terpampang di depan mata. Untuk pertama kalinya saya melihat menara ini secara langsung, dari dekat. Sebelumnya hanya pernah melihat foto-fotonya di internet, atau replika gantungan kunci yang biasa dibawakan oleh teman-teman.

To be continued…

7 thoughts on “‘Mencicipi’ LRT Kuala Lumpur

  1. Pingback: Tur Menara Petronas « Haryo Site

  2. Pingback: Apa citer sistem tiket AFC, KFC, McD …? dah setahun lebih ni … | Coretan  Alkimia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s