Journal

Tertahan di Imigrasi Singapura

Masih, dalam seri perjalanan pertama ke negeri tetangga. Liburan saya bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, yang waktu itu dimulai pada 19 Juli 2012. Hari pertama puasa, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi negara Asia Tenggara lain : Singapura. Saat itu kebetulan Bang Fazli hendak pulang kampung ke Simpang Renggam, Johor (Negara Bagian paling selatan di Semenanjung Malaya, Malaysia), jadi sekalian saya diantarkan ke terminal Larkin, Johor Bahru untuk menyebrang ke Singapura. Dengan menaiki kereta (mobil) proton milik Bang Fazli, kami menempuh perjalanan dari Kuala Lumpur ke Johor selama kurang lebih empat jam menempuh jarak sekitar 325 km. Jika ingin menaiki kendaraan umum dari Kuala Lumpur ke Larkin Sentral (Terminal Larkin), kita harus menuju terminal KL Sentral dahulu. Boleh dikatakan, KL Sentral ini interchange moda transportasi di seluruh Kuala Lumpur. Dari KL Sentral kemudian naik KTM (Keretapi Tanah Melayu) menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS), atau disebut juga Bandar Tasik Selatan. Di Bandar Tasik Selatan terdapat berbagai macam Bas (Bus) yang menghubungkan Kuala Lumpur dengan Kota-kota lain. Termasuk Johor Bahru, mohon maaf saya belum bisa menginformasikan harga tiketnya karena saya tidak naik kendaraan umum. :p

Suasana Larkin Sentral hampir mirip dengan terminal-terminal antarkota di Indonesia pada umumnya, di Larkin juga terdapat pasar awam yang menjual berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari (istilahnya kalau disana kedai runcit). Selain itu, kita bisa menjumpai banyak money changer di sini. Saya menukar uang 50 Ringgit yang saya bawa dengan Dolar Singapura. Memang sengaja tidak menukar uang banyak karena rencananya saya mau menukar uang Dolar USA saya dengan uang Dolar Singapura setibanya di sana nanti (yang ternyata tidak saya lakukan :p). Untuk menuju Singapura dari Larkin Sentral, ada beberapa Bus yang bisa dinaiki salah satunya adalah Bus SBS Transit dengan kode jalur 170. Pemberhentian terakhirnya adalah terminal Queen Street, Singapura. Skema pembayaran naik Bus antar negara ini cukup unik. Kalau naik dari larkin Sentral ke Singapura, kita membayar dengan mata uang Ringgit Malaysia. Sebaliknya, kalau naik Bus dari Singapura ke Larkin sentral, pembayarannya menggunakan Dolar Singapura (tentu saja tarif menggunakan Dolar Singapura lebih mahal.

http://multiply.com/mu/huflepuff/image/7/photos/67/600x600/1/Hahh..-kempasss.JPG?et=hz10LROBZTBMTmaMgGWMQg&nmid=604716282&.jpg

Menuju Terminal Larkin

Kalau mau naik Bus jenis ini, pastikan bahwa kita membayar dengan uang pas. Karena Pak Supir tidak menyediakan kembalian. Pembayaran dilakukan dengan cara memasukkan uang ke kotak kaca yang terdapat di samping supir bus. Saya mendapatkan pengalaman menarik ketika baru menaiki SBS transit, pada saat menanyakan tarif Bus kepada supir, dia menjawab dua-dua Ringgit. Awalnya saya mengira kalau yang dimaksud Pak Supir adalah dua puluh dua ringgit. Jadi saya mengeluarkan uang 100 ringgit dan memberikannya kepada supir (karena belum tahu sistem pembayarannya :p). Si Supir langsung berkata dengan nada tinggi :

“You mau bayar 100 ringgit?? Awak turun dulu sana, tukar wang”

Saya kemudian turun dan Pak Supir langsung tancap gas.. Berangkat, meninggalkan saya yang kebingungan. Usut-punya usut, rupanya tarif naik bus nya adalah 2,2 Ringgit. Pantas saja kalau supirnya marah tadi. Padahal ada uang pecahan 2,2 ringgit di dompet. Saya terpaksa menunggu beberapa menit lagi untuk bus selanjutnya.

Pada saat menunggu kedatangan bus kedua, saya berkenalan dengan seorang Wanita warganegara Singapura yang bekerja di Johor bahru, saya memanggilnya Kak Siti (Karena agak aneh rasanya kalau memanggilnya ‘Tante’, :p ). Kami berbincang-bincang mengenai banyak hal sepanjang perjalanan dari Larkin sampai Jembatan di Selat Johor yang menghubungkan Malaysia dengan Singapura. Kak Siti juga memberi saya makanan untuk buka puasa.

Menyebrang Selat Johor

Melintasi Selat Johor

Ketika tiba di kantor imigrasi bangunan Sultan Iskandar Johor, Malaysia para penumpang bus turun untuk menyetempel paspor keluar dari wilayah Malaysia, lalu menuju ke Bagian Imigrasi Singapura. Pengurusan imigrasi masuk Singapura tidak seperti ketika masuk ke Malaysia. Kalau di Malaysia, warganegara Indonesia hanya perlu menyetempel paspor (dan menunjukkan tiket pulang kalau di Bandara). Di imigrasi Singapura, kita harus mengisi dokumen berisi biodata, lama tinggal di Singapura, dan Alamat yang akan ditinggali. Waktu itu, saya sama sekali belum merencanakan akan menginap dimana. Untungnya Kak Siti membantu saya mengisi formulir tersebut dan menuliskan alamat rumahnya sebagai tempat yang akan saya tinggali. Untung saja saat itu saya bertemu dengan orang baik. Hehee.

Sayangnya pada saat menghadap ke petugas imigrasi untuk stempel paspor, situasi tidak berjalan lancar. Si petugas, seorang wanita Melayu melihat-lihat paspor saya dan formulir yang saya isi. Kemudian memandang saya dengan curiga. Dia kemudian berseru “Awak tunggu di sini”. Kemudian dia menghubungi seseorang lewat walkie talkie. Apes nih… Orang-orang yang masuk setelah saya semuanya lancar dan tidak ada yang ditahan. Mungkin petugas ini curiga saya adalah TKI ilegal.. -_-. Sekitar lima menit kemudian, petugas imigrasi lain menjemput saya dan membawa saya ke ruangan terpisah.

Bersambung

About these ads

5 thoughts on “Tertahan di Imigrasi Singapura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s