Journal

Hidup di Kuburan Utara Manila : Yang hidup dan Mati Bersatu

Beberapa waktu yang lalu, setela mendapat kesempatan nonton TV di rumah lagi, ada dokumenter menarik tentang kehidupan di kota Manila, Phillipina. Menurut pendapat beberapa orang Indonesia yang pernah mengunjungi Manila, kota yang dijuluki mutiara dari timur ini tak ubahnya seperti Jakarta. Jalanan macet, gedung-gedung bertingkat, dan mall-mall bertebaran. Di Manila juga terdapat Mall of Asia yang diklaim sebagai salah satu Mall terbesar di dunia dengan luas total 407,101 meter persegi dan dikunjungi sekitar 200 ribu orang setiap harinya. Saking besarnya sampai disediakan kendaraan kecil di dalam mall.

Sama seperti Jakarta, beberapa kawasan slum area (tempat kumuh) juga dapat ditemui disini. Namun ada satu tempat yang menari yang diulas, yaitu Manila North Cemetery yang lebih dikenal sebagai Perumahan kuburan utara Manila. Namanya mungkin terdengar horor. Tetapi pada kenyataannya memang orang-orang disini tinggal di KUBURAN!. Ya, sekitar 10.000 orang Manila menempati kuburan sebagai tempat tinggal mereka dengan berbagai background, ada yang homeless sampai terpaksa menjual rumah untuk melunasi hutang.
Masih dalam liputan yang ditayangkan di televisi, host mewawancarai seorang wanita paruh baya yang mengaku sudah 20 tahun tinggal di ‘perumahan’ tersebut. Dia tinggal di salah satu makam yang sudah disulap menjadi rumah lengkap dengan ruang keluarga dan kamar tidur. Di dalam rumahnya seorang wanita yang lebih tua yang ternyata adalah ibunya sedang menonton TV.
“Is there any ghost here” tanya host kepada ibu tua tersebut.
“Oh yes, of course, hahaha” ujarnya sambil tertawa.
Selain sebagai tempat tinggal, warga perumahan kuburan Manila utara juga memanfaatkan pemukiman mereka sebagai sumber mata pencaharian. Ada yang mendapat upah dari menjaga makam keluarga, ada yang membuka toko di kuburan dan menjual makanan kecil. Perlu diketahui menguburkan jenazah di phillipina memerlukan biaya yang besar. Sehingga keluarga yang telanjur kehilangan anggota keluarganya harus mengeluarkan banyak uang untuk pemakaman.

Namun, tidak jarang diantara keluarga tersebut tidak memiliki cukup uang untuk pemakaman. Sehingga terpaksa menyewa tempat makam sementara dengan harga tertentu sampai beberapa tahun. Tempat penitipan ini mirip loker yang disusun bertumpuk dan berjajar dan berjumlah ratusan. Jika lewat dari waktu yang telah ditetapkan dan masih tidak bisa membayar, hhmmm bagaimana jadinya ya?πŸ˜€ Anak-anak juga turut andil dalam bisnis dipemakaman dengan membantu membawakan peti mati yang datang. Bisnis hiburan juga dibuka untuk warga yang ingin melepaskan kepenatannya. Dengan membayar beberapa peso, Anda sudah bisa menikmati karaoke di kuburan.. Mau??

Sang host kemudian diajak menyusuri lorong kecil berkelok dan menaiki tangga, kemudian turun lagi sampai di sebuah ruangan kecil terbuka. Dia melihat pemandangan yang cukup ganjil, di sudut ruangan terdapat peti mati berwarna putih lengkap dengan isinya : jenazah. Bisa diketahui karena bagian atas peti tersebut terbuat dari kaca bening yang menunjukkan ada yang bersemayam didalamnya. Masih di dalam ruangan kecil yang sama, beberapa orang tanpa rasa canggung bermain kartu tepat di sebelah jenazah. Permainan tersebut bukan sekedar untuk bersenang-senang, tetapi untuk judi. Rupanya kegiatan ini digelar oleh keluarga yang berduka dalam rangka mencari uang untuk biaya pemakaman. Biasanya kegiatan ‘amal’ digelar semalam suntuk, atau sampai mereka mndapat cukup uang. Si host juga mencoba permainan ini dan kalah dalam game pertama. Dia harus membayar karena alah taruhan dan berkata “Belum pernah saya sesenang ini saat kalah judi, hehe”.

Hmm. Saya memang tahu kalau di beberapa kuburan di Indonesia juga dipakai sebagai rumah. Namun ternyata warga kuburan utara Manila menjadikannya lebih dari sekedar rumah.πŸ˜€

20 thoughts on “Hidup di Kuburan Utara Manila : Yang hidup dan Mati Bersatu

  1. bundel said: Hei, kok dadi mbahas kuburan mbengi-mbengi ngene seh?

    Ini timing yang pas bunda,πŸ˜€. heheSebenarnya gak sengaja ngepost malem-malem. Memang saya ada waktu ngetiknya malem bund, kalo pagi kuliah..πŸ˜€

  2. @mas bams : kalo kembang kuning g cuma dipake buat rumah mas. tempat mangkal bencong juga… serem booo..hahaatapi klo jakarta belum tau.kalo kembang kuning aku wes tau survei.. haha

  3. mampir ke postingan Haryo terbaru aaaaaaahternyata oh ternyata….dunia ini memang menjadi semakin sempit aja ya…hmmm lalu bagaimana dengan Haryo sendiri? adakah mempunyai keinginan menjadi kuburan adalah rumah? hihihijelasnya sih ‘rumah terakhir’ jasad kita ya mestinya kuburan ya to… *sekalian dzikrul maut dah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s