Journal

Mencari Nafkah di Makam Kembang Kuning

Setelah postingan saya sebelumnya tentang perumahan kuburan utara Manila, pemakaman yang berfungsi ganda sebagai rumah. Kali ini saya akan membahas makam lain yang juga ‘serba guna’ di daerah Surabaya. Namanya Pemakaman Kembang Kuning. Nama ‘Kembang Kuning’ diambil dari tumbuhan berbunga kuning yang banyak dijumpai di sekitar makam. Pemakaman ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, karena pada beberapa nisan tertulis angka tahun 191x. Makam kembang kuning merupakan tempat peristirahatan terakhir umat kristiani, tidak heran kalau makamnya besar-besar. Pada zaman kolonial. Makam ini dikhususkan bagi orang Belanda kristen, yahudi, dan orang pribumi yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan pada masa itu. Dengan jumlah sekitar 5000 makam, tempat ini juga menjadi salah satu warisan sejarah Belanda.
Image Courtesy of Okezone.com

Melihat gambar diatas, bisa dibayangkan bagaimana suasana makam kembang kuning di malam hari. Bagi sebagian besar orang, tentu kita sering mendengar bagaimana angkernya kuburan Belanda dalam berbagai cerita, baik cerita dari mulut ke mulut, cerita misteri di televisi, sampai tayangan semacam ‘Masih Dunia Lain’. Tentu kita tidak lupa dengan kisah pastur jeruk purut. Hantu yang biasanya ‘standby’ di makam jeruk purut dan membawa kepalanya sendiri. Atau cerita tentang seramnya makam Boscha yang pernah menjadi tempat uji nyali. Ditambah lagi dengan kabar bahwa pernah ada orang yang bunuh diri di makam kembang kuning. Hmmm.. Bagaimana kalau kita mengunjungi tempat itu jam 12 malam?

Kalau tertarik, pemakaman ini bisa ditemukan di dekat Jalan Diponegoro, Surabaya, ada jalan masuk ke perumahan kecil. Di ujung jalan, di sebelah masjid, kita akan disambut dengan tulisan ‘Anda memasuki areal Pemakaman Kembang Kuning’. Di sisi kanan gerbang terdapat tempat krematorium (Tempat untuk pembakaran mayat). Saya pernah mengunjungi tempat ini paling tidak dua kali, dan semuanya diatas jam 12 malam😀. Pertama kali saya mengunjungi tempat itu secara tidak sengaja tahun 2008. Pada saat mahasiswa baru, sudah menjadi hal biasa kalau kami mendapat banyak tugas baik tugas kuliah maupun ‘tugas’ dari senior yang harus dikerjakan satu angkatan. Hampir bisa dipastikan waktu mengerjakan tugas pasti sampai larut malam. Pada satu kesempatan, setelah mengerjakan tanggungan salah satu teman yang asli Surabaya mengajak kami melihat-lihat keindahan kota pahlawan pada malam hari. Saya yang waktu itu masih ‘orang baru’ di Surabaya tertarik dan memutuskan untuk ikut. Kami mengelilingi daerah Wonokromo, Kebun Binatang Surabaya, dan Dukuh Kupang. Sebagai informasi, Daerah Dukuh Kupang sangat dekat dengan pusat lokalisasi Asia Tenggara : ‘Gang Dolly’.
Ini pertama kalinya saya mengunjungi Dolly, untung saja tidak sampai turun dari sepeda motor –“. Honestly, tempat ini membuat saya merinding. Bagi saya, gang Dolly terlihat seperti jalanan perkampungan dengan rumah-rumah kecil dan rapat khas pinggiran kota yang disulap menjadi begitu gemerlap. Para kupu-kupu malam dipajang di etalase kaca dan duduk di sofa empuk seperti manekin. Masih mengendarai sepeda motor, kami menyusuri jalanan keluar dari kompleks dan masuk ke pemakaman. Karena waktu itu kami tidak masuk melalui gerbang utama makam. Saya berpikir ini cuma makam biasa yang tertata rapi, ada jalan setapak beraspal bercabang menuju ke berbagai sisi makam. Persis seperti suasana di perumahan. Bedanya, rumah yang ada disini adalah rumah masa depan.
Image courtesy of extremmepoint.com

Seperti yang saya jelaskan di awal. Makam kembang kuning juga berfungsi ganda. Kalau kuburan utara manila bisa menjadi rumah. Disini, kuburan bsa menjadi tempat mencari nafkah. Bagaimana bisa? Rupanya banyak Waria dan PSK disini –“. Saya memang melihat pemakaman yang membuat saya takut, tapi bukan pocong, kuntilanak, dan sejenisnya melainkan bencong. Ya, tampak jelas sosok wanita (atau pria) duduk diatas makam mengenakan pakaian mini berwarna merah, berambut panjang, sayangnya dengan paha dan betis besar seperti hansip. Ternyata banyaaaakkk manusia-manusia sejenis yang saya temui. Sambil berdoa tidak diapa-apakan, kami terus meluncur menuju gerbang dan meninggalkan makam dengan perasaan lega. Memang sudah sejak lama makam kembang kuning dijadikan tempat operasi para ‘penyedia jasa’. Mungkin karena lokasinya dekat dengan Dolly. Rata-rata pekerja disini berumur 30-40 an. Bisa jadi karena kalah saingan, mereka mengungsi. Selain wanita tulen, wanita jadi-jadian juga banyak yang mencari peruntungannya. Ketika saya kesana juga terdapat becak di pinggir makam, entah untuk apa? Kondisi tersebut juga didukung dengan warung yang buka di tengah makam yang menjual makanan dan minuman. Motor-motor juga diparkir di pinggir makam ditinggal pemiliknya, apakah mereka masuk jauh ke kompleks makam dan berbuat hal lain? siapa tahu. Yang jelas, kondisi ini begitu mengkhawatirkan ditambah lagi tidak sedikit pelanggan di bawah umur (anak-anak SMP dan lulusan SD!) yang ingin mencoba. Hmm, sudah begitu kacaukah negara ini?

28 thoughts on “Mencari Nafkah di Makam Kembang Kuning

  1. rengganiez said: gak sempat poto2 yah?

    Terlalu serem mbak niez, takutnya kalo berhenti, foto-foto. si objeknya minta ‘kompensasi’ –“. Tertarik kesini mbak? hehe

  2. huflepuff said: Terlalu serem mbak niez, takutnya kalo berhenti, foto-foto. si objeknya minta ‘kompensasi’ –“. Tertarik kesini mbak? hehe

    temen habis dari kesana kemarin…

  3. huflepuff said: Para kupu-kupu malam dipajang di etalase kaca dan duduk di sofa

    Pemandangan begini juga banyak dan khas di Eropa di sepanjang distrik lampu merah Amsterdam, Belanda dan juga di distrik lampu merah Nord, Brussels, Belgia.

  4. bundel said: Pemandangan begini juga banyak dan khas di Eropa di sepanjang distrik lampu merah Amsterdam, Belanda dan juga di distrik lampu merah Nord, Brussels, Belgia.

    Bunda tahu banyak ternyata, Bunda pernah kesana juga? Great.. :DKelihatannya warisan dari sana bunda, soalnya Gang Dolly dulunya milik Noni Belanda.

  5. huflepuff said: Bunda tahu banyak ternyata, Bunda pernah kesana juga? Great.. :DKelihatannya warisan dari sana bunda, soalnya Gang Dolly dulunya milik Noni Belanda.

    Yang di Amsterdam itu ngetop sejagad raya. Saya lewat aja karena mau makan siang diajak saudara saya yang Warga Negara Belanda di zentum Asterdam, lokasi restorannya pas di dekat tempat itu.Yang di Belgia, saya lewat karena memang letaknya di pinggir rel kereta ke luar kota, jadi kalau keretanya lewat kita mesti lihat. Selain itu di Nord ada pusat perniagaan muslim, jadi kalau mau dapat kebutuhan kita, ya terpaksa ke situ😀

  6. bundel said: Yang di Amsterdam itu ngetop sejagad raya. Saya lewat aja karena mau makan siang diajak saudara saya yang Warga Negara Belanda di zentum Asterdam, lokasi restorannya pas di dekat tempat itu.Yang di Belgia, saya lewat karena memang letaknya di pinggir rel kereta ke luar kota, jadi kalau keretanya lewat kita mesti lihat. Selain itu di Nord ada pusat perniagaan muslim, jadi kalau mau dapat kebutuhan kita, ya terpaksa ke situ😀

    Wowww.. Pengalaman Bunda banyak sekali nihh.. Jadi pengen kesana juga🙂.Yang di Holland saudara kandung kah?

  7. huflepuff said: Wowww.. Pengalaman Bunda banyak sekali nihh.. Jadi pengen kesana juga🙂.Yang di Holland saudara kandung kah?

    Bukan, keponakan mertua saya, nikah dengan Belanda Depok yang ikut arus pilih jadi WN Belanda.

  8. anotherorion said: luwih medeni wedok jadijadian mbange menungso jadi2an e

    Iyooo mas. ketemu bencong lebih medheni :p. Mas Priyo tau dolan nang kembang kuning sisan? hehheeee

  9. nanazh said: tetap konsisten dengan liputan kuburan yang nyeleneh, ya Yo… ~_~a

    Bukan disengaja sih nas. Dapat inspirasi pas mas bambang komen di jurnal satunya.Tertarik kesini? Gak kalah menarik dengan tugu pahlawan lohh.. :p

  10. bundel said: Bukan, keponakan mertua saya, nikah dengan Belanda Depok yang ikut arus pilih jadi WN Belanda.

    Kalau mudik lebaran pasti asik ya bunda, dapat keju Belanda😀

  11. huflepuff said: Kalau mudik lebaran pasti asik ya bunda, dapat keju Belanda😀

    Mereka jarang sekali pulang, agamanya juga Protestan kok. Mereka udah persis Belanda totok karena sudah 45 tahun di Belanda dan anak-anaknya juga lahir di situ.

  12. bundel said: Mereka jarang sekali pulang, agamanya juga Protestan kok. Mereka udah persis Belanda totok karena sudah 45 tahun di Belanda dan anak-anaknya juga lahir di situ.

    Tapi selama ini tetap keep contact kan Bunda? wowwww lama sekali.. Keberadaan saya bahkan belum terpikirkan 45 tahun lalu. Berarti sudah sepuh sekali yaa..

  13. bundel said: Mereka jarang sekali pulang, agamanya juga Protestan kok. Mereka udah persis Belanda totok karena sudah 45 tahun di Belanda dan anak-anaknya juga lahir di situ.

    Tapi selama ini tetap keep contact kan Bunda? wowwww lama sekali.. Keberadaan saya bahkan belum terpikirkan 45 tahun lalu. Berarti sudah sepuh sekali yaa..

  14. huflepuff said: Tapi selama ini tetap keep contact kan Bunda? wowwww lama sekali.. Keberadaan saya bahkan belum terpikirkan 45 tahun lalu. Berarti sudah sepuh sekali yaa..

    Masih, minimal kirim kartu hari raya. Iya saudara saya sudah pensiun dari PT Pos Giro Belanda, suaminya pensiun dari IBM Company duluuuuuu…….. sekali.

  15. anotherorion said: ish enggak lah, tapi nek arep ngejak yo gelem😀

    arek Suroboyo kan mas? moso g tau dolan. aku sing perantauan wes ping 3, :p.. (tapi g lapo-lapo, mek lewat)

  16. anotherorion said: hudu mas haryo, aku neng jogja ae kok, hahahahaha

    oo… tertipu saya :p. spellinge model-model wetanan sih.. nek nang jogja dudu kembang kuning ya mas, tapi kembang pasar.. hahaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s