Journal

Bromo 11/11/11-12/11/11 : (2) Di Penanjakan Gunung Bromo

Lanjutan dari bagian 1

Setelah istirahat sampai jam setengah tiga pagi. Kami bersiapsiap berangkat ke Penanjakan <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>Gunung Bromo. Perlu diketahui, untuk mencapai penanjakan <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>tersedia jip yang memang sengaja disewakan untuk para pengunjung. <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>Kebetulan kerabat teman saya (yang rumahnya kami singgahi) <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>memiliki kenalan penyewaan jip. Jadi si penyedia <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>jasa dihubungi lewat telepon sementara kami tinggal menunggu jip datang (dan tentu saja bayar). Penyedia jasa jip di Bromo memiliki paguyuban, jadi kegiatan sewa menyewa di antara mereka sudah
terorganisir.Salah satu regulasi yang dihasilkan paguyuban adalah
tarif penyewaan
jip tidak boleh kurang dari 250.000 (berdasarkan info dari teman saya). Jip bisa ditumpangi maksimal 8 orang, dan kebetulan jumlah rombongan kami pas 8. Jadi sekitar 32.000 per orang (dengan kembalian 750 rupiah). Sebelum berangkat kami diberitahu sebaiknya membawa jaket lebih dari satu, sarung tangan, dan kaos kaki karena temperatur udara yang rendah. Sebenarnya saya sudah membawa dua jaket. Tetapi setelah diraba, dirasa, dan dihayati. Ternyata udaranya tidak sedingin yang saya bayangkan (tapi memang dingin sih), saya cuma pakai 1 jaket. Sedangkan jaket lainnya saya masukkan tas. Saya tetap memakai kaos kaki meskipun tidak membawa sepatu<span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>, jadi saya padukan dengan sandal. hehe, meskipun sedikit
nyeleneh ternyata cukup ampuh mengusir dingin.
Jarak dari tempat persinggahan menuju Penanjakan cukup jauh. saya tidak tahu pasti, berapa kilometer. Yang jelas
perjalanan kami memakan waktu sekitar satu jam. Jika ingin berhemat pengunjung bisa ke penanjakan dengan sepeda motor milik sendiri, dan jangan pernah mencoba untuk menempuh perjalanan dengan mobil biasa karena jalanannya sangat curam dan berkelokkelok. Di tengah perjalanan kami menjumpai mobil avanza yang nekad ke penanjakan. Akibatnya mobil itu berhenti di tengah jalan karena tidak kuat naik lebih jauh lagi.. hehe, salah siapa /:) raised eyebrows. Setelah melewati perkampungan, kami sampai di penanjakan, lebih tepatnya baru di kakinya. Hari masih gelap dan matahari belum menampakkan diri. Untuk menuju ke tempat tujuan<span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”> kami harus berjalan kaki menaiki bukit yang curam sejauh kurang lebih 1 kilometer. Saya menyadari kalau sejak kuliah jarang olahraga. Belum separuh jalan kami sudah ngosngosan. Ditambah lagi bau kotoran kuda yang menusuk, ya di sekitar tempat tersebut memang
banyak kuda yang disewakan untuk para wisatawan. Tarifnya sekitar
20.000
untuk sekali jalan. Jarak pandang kami sangat terbatas karena masih gelap gulita, bahkan untuk melihat jalan pun sangat sulit. Tetapi saya yakin kalau jalur yang kami lewati pasti dipenuhi ranjau darat.
Untuk tips juga, kalau memang berniat ke penanjakan dini hari. Saya sarankan untuk
membawa peralatan sholat sendiri plus botol air mineral besar untuk
wudhu, karena di penanjakan tidak ada toilet dan musholla (sayang sekali). Sialnya lagi kami tidak membawa peralatan sholat. Untung saja seorang penjual makanan kecil berbaik hati meminjami kami alas untuk sajadah. Tak lama kemudian matahari terbit. Perlahan tapi pasti daerah Gunung Bromo mulai menunjukkan panoramanyaWahhh, benarbenar spektakuler!! Subhanallah ya, :p. Disebelah tenggara penanjakan terdapat gunung Batok yang
diselimuti tumbuhtumbuhan sehingga tampak kehijauan. Tidak jauh <span class="Apple-style-span" style="font-size:
18px;”>dari Gunung yang menurut cerita adalah jelmaan raksasa dalam legenda Rara Anteng tersebut terhampar padang pasir luas berwarna hitam kecoklatan yang kita kenal sebagai lautan pasir. Ada juga Pura di kompleks lautan pasir yang terlihat seperti maket bangunan di kejauhan. Disebelah Gunung Batok kita bisa melihat kawah Bromo yang sampai saat ini masih aktif.
Sambil mengembalikan alas untuk Sholat, saya membeli p*p mie di tempat penjual tadi. Sudah saya
perkirakan, pasti harga makanan disini diatas harga normal,
tetapi saya cukup kaget juga ketika saya harus embayarnya dengan selembar uang sepuluh ribuan tanpakembalian. Huhu, apa boleh buat. Yang penting masih bisa mengganjal perut. Kami naik keatas lagi untuk melihat pemandangan lebih jelas. Disana para banci kamera mulai beraksi.
Sayangnya memori kamera saya penuh, sehingga hanya bisa digunakan mengabadikan sedikit gambar, untungnya masih ada kamera lain. Beberapa teman saya juga membuat dokumentasi video. Tentu saja, masalah tertundanya keberangkatan kami garagara ng*sing ikut dibahas, kena lagi dehh :p. Setelah cukup puas kami turun kembali <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>karena
memang diburu waktu, saya ingin segera <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>kembali ke Surabaya sore hari karena ada janji dengan <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>salah satu teman. Saat turun saya bertemu dengan sepasang suami istri bule, mereka berasal dari Dublin, Irlandia. Saya juga mengajak mereka foto bersama dan dengan senang hati mereka bersedia. Bahkan mereka juga mengajak saya foto lagi dengan kamera milik mereka. hhee. Sejak awal sampai akhir kami belum sempat berfoto bersama 8 orang. Saya <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>kemudian meminta tolong ke salah satu wisatawan <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>asing (ya, saya memang sengaja meminta tolong ke <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>bule :D) untuk memfoto kami.
“Excuse me sir, where are you
from”
“I am from Holland”
“Sorry for bothering you. But, would you mind to take my picture with my friends with this camera, just press this button” Kata saya sambil menunjukkan kamera yang <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>saya bawa.
Belum sempat si bule menjawab, seorang wanita domestik yang ternyata teman dari si <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>bule menyahut dari kejauhan :
Pake Indonesia aja mas ngomongnya…”
“Oh, Anda bisa bahasa Indonesia?” Tanya saya kepada si bule
“Ya, tentu saja
“Oh My GOD” kata saya sambil membatin, ealahh.. tiwas sorosoro ngomong inggris<span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>. Dan si turis Belanda tadi hanya tertawa melihat
wajah tertipu saya –“.
Setelah mengambil satu<span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”> gambar, saya ajak dia untuk berfoto bersama, dan dia bersedia ;) winking. Kami mengucapkan terima <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>kasih kepada si bule yang sampai sekarang belum <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>tahu siapa namanya, kemudian berjalan menuju tempat jip <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>diparkir 1 km di bawah sana. Dalam perjalanan, ternyata <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>kecurigaan saya benar. Jalan setapak dihiasi dengan kotoran <span class="Apple-style-span" style="font-size:
large;”>kuda baik yang masih segar, penyet, maupun yang sudah kering.. Huhu, lagilagi bermasalah dengan taik.

<div style="text-align:
right;”>