Journal

Filosofi WC : Antara Lubang Kloset dan Introspeksi Diri

Pagi hari tadi (24 November 2011). Saya mengikuti kuliah Metodologi Penelitian. Minggu sebelumnya kami mendapat tugas untuk mencari paper dan membawa paper tersebut pada saat kuliah. Rupanya ketika kuliah kami diberi tugas untuk membuat mind map dari paper yang kami bawa. Selama beberapa saat seisi kelas menjadi hening karena masing-masing mahasiswa sibuk membuat kerangka berpikir dari paper yang mereka bawa. Sekitar 20 menit berlalu dan dosen kami meminta salah satu dari kami untuk maju dan menuliskan hasil kerjanya. Teman saya mengacungkan tangan dan segera menulis di whiteboard. Rupanya dia membahas paper tentang sistem pengambilan keputusan jumlah produksi dari suatu perusahaan menggunakan metode logika fuzzy.


Image Cortesy of Kaskus.us

Setelah dia selesai menulis, kami diminta untuk mengoreksi pekerjaannya dengan menambahkan apa yang kira-kira kurang dari mind map. Sebelum melanjutkan, dosen saya menambahkan tulisan di mind map. Yang awalnya terdapat tulisan “Penentuan Jumlah Produksi” sekarang berubah menjadi “Penentuan Jumlah Produksi Kloset Jongkok”. Entah mengapa tambahan tulisan tersebut membuat saya tidak bisa menahan diri untuk tertawa. Hahaaaa. Memang benar, paper yang dibahas teman saya adalah penentuan jumlah produksi kloset jongkok, yang digunakan oleh sebagian besar rumah di Indonesia, terutama untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Selama beberapa saat, topik ini digunakan sebagai bahan tertawaan di kelas. Selanjutnya dosen saya menjelaskan tentang filosofi kloset. Bagaimana kloset bisa membawa perubahan besar bagi kehidupan penggunanya. Beliau menjelaskan bahwa di masing-masing negara kloset di WC rumahnya berbeda-beda. Dinegara Perancis misalnya. Sebagian besar kloset menggunakan desain leher angsa. Bedanya, lubang klosetnya tidak berada di belakang (yang notabene tegak lurus dengan saluran pembuangan tinja pada tubuh manusia), melainkan di depan. Sedangkan di Indonesia rata-rata lubang kloset berada di belakang.

Lalu apa hubungannya dengan kehidupan customer kloset? Kloset yang berada di depan memungkinkan orang yang memakainya akan melihat bagaimana bentuk, ukuran, bau, warna, dan rasa kotoran yang dia keluarkan dengan jelas. Yang melambangkan bahwa dalam hidup, dia akan melihat bagaimana kejelekan-kejelekan serta kesalahan-kesalahan yang dia buat. Sehingga manusia yang menyadari kesalahannya akan berupaya untuk memperbaiki diri dan tidak melakukan kekhilafan yang sama. Sehingga dia mampu menjadi insan yang lebih baik. Lain halnya dengan kloset di Indonesia, baik yang jongkok maupun leher angsa. Lubang klosetnya berada di belakang. Sehingga pada saat user melepaskan hajatnya, dia tidak bisa melihat apa yang dia keluarkan. Kecuali pada saat dia menyiram kloset. Perilaku ini merepresentasikan bahwa dia tidak bisa melihat kejelekan dan kesalahannya (yang dilambangkan dengan kotoran) sehingga sulit baginya untuk mengevaluasi diri. Filosofi ini juga dikaitkan dengan malu tidaknya seseorang melakukan kesalahan dengan sengaja. Apakah mungkin ini sebabnya orang Indonesia sangat pandai mengkritik dan mencari kesalahan orang lain, namun tidak malu dengan kesalahan yang dia buat. Sehingga fenomena korupsi di kalangan pejabat dan kejahatan lain di masyarakat dapat dilakukan dengan santai, tanpa peduli bagaimana penilaian orang lain terhadapnya? Bisa jadi.

Kemudian beliau melanjutkan ceritanya tentang kloset di Amerika Serikat, dimana klosetnya lebih ekstrim karena air yang memenuhi kloset mencapai separuh dari permukaan leher angsa, sehingga pengguna bisa melihat kotorannya mengambang-ambang dengan jelas. Kemudian dibandingkan dengan kloset di pedalaman Afrika yang masih menganut konsep toliet tradisional Indonesia pada jaman dulu : Jumbleng. Terbuat dari lubang yang digali sangat dalam, kemudian diberi anyaman bambu dan langsung dikeluarkan sepuasnya tanpa melihat apa yang dikeluarkan. Atau toilet terapung yang ada di peternakan lele dumbo. Semua yang dikeluarkan langsung dimakan. Yah, ini adalah cerita yang masih belum ada pembuktiannya secara ilmiah. Perlu penelitian lebih lanjut untuk melihat kebenarannya. Tetapi yang jelas. Filosofi tersebut mengajarkan kepada kita bahwa betapa buruknya kesalahan yang kita lakukan secara sengaja di mata orang lain (sampai disamakan dengan ‘kotoran’), bahwa introspeksi diri sangat penting kita lakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik bagi diri sendiri, bagi orang lain, dan terutama di hadapan Tuhan Yang Maha EsaπŸ™‚

Jika kita tidak menyadari kesalahan, itu berarti gerakan kehidupan kita tidak cukup cepat.Maka bersikaplah lebih ramah terhadap kesalahan.Perlakukanlah ia sebagai pengingat bahwa cara-cara kita selama ini tidak cukup baik untuk kelas kehidupan yang kita inginkan.Keikhlasan memperbaiki diri adalah tangga naik kelas kehidupan”



20 thoughts on “Filosofi WC : Antara Lubang Kloset dan Introspeksi Diri

  1. tintin1868 said: eh ku dulu ngajar metolit :Diya soal filosofi kloset.. sebener bukan kloset saja tujuannya.. out of the box gitu..

    metolit itu metode penelitian ya mbak tin?kalau disini sebutannya metpen. Wahh, jadi mbak tintin dosen ya? :Dmaksudnya out of the box bagaimana mbak.. Saya bingung :p

  2. hwwibntato said: anehnya, mereka sering melihat kesalahan-kesalahan mereka -di kloset angsa- setiap hari tapi tak mau mengubahnya … ha ha ha …hi hi hi …

    mungkin karena leluhur mereka masih pakai jumbleng. jadi kebiasaannya masih menurun ke generasi selanjutnya, :p

  3. huflepuff said: Apakah mungkin ini sebabnya orang Indonesia sangat pandai mengkritik dan mencari kesalahan orang lain, namun tidak malu dengan kesalahan yang dia buat. Sehingga fenomena korupsi di kalangan pejabat dan kejahatan lain di masyarakat dapat dilakukan dengan santai, tanpa peduli bagaimana penilaian orang lain terhadapnya?

    Yang kayak gitu mah buanyaaak mas… Di MP juga ada tuh, doyan nyari-nyari kesalahan orang, tapi enggan melihat “kotorannya” sendiri… hihihi… πŸ˜€ Terima kasih buat tulisannya yang insha Allah bermanfaat, semoga mereka yang seperti mas Haryo tulis ini diparingi petunjuk untuk menyadari kejelekannya sendiri. Dan semoga kita senantiasa diparingi petunjuk untuk selalu memperbaiki diri sebelum memperbaiki orang lain, aamiin. πŸ™‚

  4. sepasangmatabola said: Yang kayak gitu mah buanyaaak mas… Di MP juga ada tuh, doyan nyari-nyari kesalahan orang, tapi enggan melihat “kotorannya” sendiri… hihihi… πŸ˜€ Terima kasih buat tulisannya yang insha Allah bermanfaat, semoga mereka yang seperti mas Haryo tulis ini diparingi petunjuk untuk menyadari kejelekannya sendiri. Dan semoga kita senantiasa diparingi petunjuk untuk selalu memperbaiki diri sebelum memperbaiki orang lain, aamiin. πŸ™‚

    Hahaaaa… nggak tahu kenapa komennya bikin saya ketawa mbak… Seperti sindiran untuk seseorang kayaknya. :DAminn, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.Maaf belum sempat kenalan, nama aslinya mbak siapa? hehee..Salam kenal yaaπŸ™‚

  5. huflepuff said: Hahaaaa… nggak tahu kenapa komennya bikin saya ketawa mbak… Seperti sindiran untuk seseorang kayaknya. :DAminn, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.Maaf belum sempat kenalan, nama aslinya mbak siapa? hehee..Salam kenal yaaπŸ™‚

    Namaku pasaran, mas Haryo, Sri. Mas Haryo ini pinter dweh kayaknya… πŸ˜€ Aku dadi melu ngguyu, mas, moco komentare panjenengan… Suwun yo, hahaha… πŸ˜€

  6. sepasangmatabola said: Namaku pasaran, mas Haryo, Sri. Mas Haryo ini pinter dweh kayaknya… πŸ˜€ Aku dadi melu ngguyu, mas, moco komentare panjenengan… Suwun yo, hahaha… πŸ˜€

    Ok mbak sri.. :pHahaa. Akhirnya ada yang bilang saya pintar. Jadi malu :3hehe. Sebenarnya sebelum jadi kontak, saya sering sih mengamati komentarnya mbak di beberapa lapak.. :p.Yowislah. Mari ketawa bareng.. Hahaa

  7. rengganiez said: Kalo yg pake metode plung lap piye? Hehehe…

    Kembali lagi mbak niez. Tergantung dimana lubangnya. Tapi menurut saya kalau ngelap rasanya kurang bersih. Jadi mending sangu air aja..πŸ˜€

  8. anotherorion said: paling penak tetep jongkok deh malah bingung aku nek kloset njagong, opo neh nek ono kloset berdiri

    Semua kembali ke selera masing masing. Mana yang lebih nyaman, mas priyo. Nek aku senengan sing njagong. Cuma gak nemu nemu. Padahal lebih enak nek digawe moco atau buka hp(sekalian update status) Wah. Kloset ngadhek kuwi piye mas? Nek nyemplung ngkok gak presisi? Hahaa

  9. jampang said: filosofi ngasal… tentang keberagaman dan kesatuan… apa pun yg dimakan… hasilnya tetap satu juga…. xixixixixixi

    Hahaaa.. ini mengajarkan kita untuk tidak mendiskriminasi kaum minoritas ya mas?kalau ibu saya pakai filosofi ini waktu anaknya pilih pilih makanan. Semua makanan sama saja. Toh keluarnya juga tetap taik.. hahaaaa

  10. @tuneman : it’s a story about pit toilet (or lubang tandas in malay) pakcik. In developed countries, for example in france. pit of toilet is placed in front of human rectum (or assh*le). therefore. they can easily see his/her sh*t. It’s has some connection with human life. when we do some mistake or failure, we can see our mistake clearly, then we can evaluate ourself and become a better person. do you satisfy with my answer? (sorry i’m not fluent in english, hehee)πŸ˜€

  11. huflepuff said: @tuneman : it’s a story about pit toilet (or lubang tandas in malay) pakcik. In developed countries, for example in france. pit of toilet is placed in front of human rectum (or assh*le). therefore. they can easily see his/her sh*t. It’s has some connection with human life. when we do some mistake or failure, we can see our mistake clearly, then we can evaluate ourself and become a better person. do you satisfy with my answer? (sorry i’m not fluent in english, hehee)πŸ˜€

    hehehhe..makasih : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s