Journal

Catatan Edisi Tidak Pulang Kampung : Dimanakah Rumahmu Nak?

Sejak saya kuliah sampai sekarang. Saya termasuk mahasiswa yang jarang ‘homesick’. Padahal jarak antara rumah dengan kampus tidak terlalu jauh. Kampus saya berada di Surabaya, sedangkan rumah di Gresik. Bisa ditempuh dalam 1 jam perjalanan. Tahun pertama, sebagai mahasiswa baru kami disibukkan dengan kegiatan OSPEK yang waktunya hampir 1 tahun. Kalau dihitung hitung, setiap akhir pekan ada saja acara yang harus diikuti. Mulai dari pelatihan manajemen diri, pelatihan karya tulis. Atau bertemu dengan ‘kakak senior’. Sehingga sarang pulang ke rumah. Tahun kedua lebih gila lagi. Dengan banyaknya proker dan agenda dari himpunan maupun BEM. Saya bahkan lebih sering tidur di kampus. Tahun ketiga memang tidak sepadat tahun kedua, tetapi tetap saja : jarang pulkam.
Saya juga orang yang tidak betah mendekam lama di rumah. Kalaupun pulang kampung. Pasti dihabiskan dengan jalan-jalan keliling Gresik atau kumpul dengan teman masa SMA. Diam-diam saya memang menikmati kesibukan di kampus. Saat ini, saya sudah menginjak semester tujuh. Kegiatan di BEM dan di Himpunan sudah tidak saya ikuti lagi. Kuliah juga hanya tersisa 2 mata kuliah, ditambah tugas akhir. Sebenarnya bisa saja kalau saya ‘memaksa’ pulang ke rumah tiap minggu. Tapi pikiran tentang tugas akhir yang tidak kunjung selesai membuat saya memilih tetap di kampus ketika akhir pekan (meskipun sampai sekarang progresnya masih belum menggembirakan :p). Kadang-kadang saya merasa bersalah juga kalau setiap akhir pekan di sms oleh ibu apakah pulang kampung? yang saya jawab tidak.
Seakan melengkapi momen ini, beberapa hari yang lalu saya menemukan notes dari salah seorang teman yang di post di grup facebook. Hmm, rasanya benar benar mencerminkan kondisi saya saat ini. Saya mencari-cari darimana notes tersebut berasal, ternyata banyak blog yang sudah memuatnya. Sehingga saya belum tahu siapa penulis aslinya sampai saat ini. berikut ini adalah isi notesnya , diambil dari sini



Orang bilang anakku seorang aktivis . Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorang aktivis.Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.

Anakku,sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis .Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku,kita memang berada disatu atap nak,di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini .Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini .Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.Mungkin tawamu telah habis hari ini,tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu . Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau,katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..

Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu,engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibu mulai bertanya nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ?

Anakku,ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat,tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?
Anakku,ibu mencoba membuka buku agendamu .Buku agenda sang aktivis.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini,ada jadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membuka lembar demi lembarnya,disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.Ternyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak,andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku..

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.Boleh ibu bertanya nak,dimana profesionalitasmu untuk ibu ?dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?
Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..
Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta,ibu,ayah,kaka dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .Dan hingga saat itu datang,jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.

Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus,untuk mereka sang penopang semangat juang ini . Saksikanlah,bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan.Karena tanpa ridhamu,Mustahil kuperoleh ridhaNya

Apalagi belum lama ini laptop yang menemani saya selama tiga tahun ini rusak, sedangkan tabungan saya belum cukup untuk membeli laptop baru. Akhirnya saya menelepon ibu untuk meminta tolong agar dikirimi uang tambahan untuk membeli laptop lagi. Tanpa banyak interogasi, saya langsung mendapat transfer uang. Dengan harapan agar saya lancar mengerjakan tugas akhir dan melihat saya memakai toga di wisuda tahun depan. Yah, hal tersebut membuat saya lebih merasa berdosa lagi. huhu. Maafkan anakmu yang masih belum bisa membahagiakanmu, Ibu. Semoga saya masih sempat membuatmu tersenyum, suatu hari nanti.

31 thoughts on “Catatan Edisi Tidak Pulang Kampung : Dimanakah Rumahmu Nak?

  1. tranparamole said: saya jarang homesick, kecuali kalo lagi sakit di kos. Baru deh homesick.

    saya kalau sakit juga nggak homesick, uda romi..😀. wah. masih kuliah juga ya?

  2. wah ku sering tuh homesick.. tapi pulangnya selalu lebaran.. kan nyebrang pulao.. sekarang udah kerja, tiap minggu pulang ke semarang.. hampir tiap minggu deh.. selalu kangen rumah.. kalu sudah di rumah dengan mama dan babe.. ya cerita sanasini.. jarang keluar malah.. selama di jkt, rumah cuma tempat tidur deh..

  3. tintin1868 said: wah ku sering tuh homesick.. tapi pulangnya selalu lebaran.. kan nyebrang pulao.. sekarang udah kerja, tiap minggu pulang ke semarang.. hampir tiap minggu deh.. selalu kangen rumah.. kalu sudah di rumah dengan mama dan babe.. ya cerita sanasini.. jarang keluar malah.. selama di jkt, rumah cuma tempat tidur deh..

    oo, dulu kuliah dimana mbak? sekarang pp tinggal naik pesawat ya?😀

  4. nanazh said: jadi kapan pulang, nak? ditunggu lo hehehe

    jiah.. sudah baca sampai akhir belum..malah guyonan :p.isinya menyentuh nih. biasanya anas kan gampang mellow, hahaaa

  5. @anas : mungkin sudah saatnya sekarang mengubah persepsi. tempat mana yang anas sebut ‘rumah’.. :pyah.. selamat ber mellow ria nas.. hehe.. biasanya taun baru libur panjang kan? ada kesempatan buat pulang lo..😀

  6. huflepuff said: capek pakcik.. disini tak ada monorail.. hehee. harus naik saikal (bener gak bahasa saya nih.. hehe)

    bener skale! hehehe…hanya basikal bukan saikal : )

  7. huflepuff said: kasih ibu sepanjang saluran peredaran darah manusia ya mas? (95000 km) hehe

    jadi pengen ngamen lagunya iwan fals ..”ibu” ternyata memang ribuan kilo kata bang Iwan …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s