Journal

Filosofi dari Sebuah Jam

Sepertinya sudah lama tidak memposting jurnal yang isinya bukan curhatan pribadi saya, hehe. Kebetulan Sabtu pagi hari saya membaca status dari salah satu kontak yang notabene adalah Dosen ITS. Status yang sangat menginspirasi, menurut saya. Isinya tentang seorang pembuat jam terkenal di Swiss. Berikut ini adalah hasil dari ‘gubahan’ status dosen ITS tadi. Semoga bermanfaat🙂.


Image courtesy of id.hicow.com


Swiss, sejak dulu negara dengan bendera palang merah ini terkenal sebagai produsen arloji dan jam dinding yang produknya tersohor di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Diceritakan, salah seorang pembuat jam di Swiss memiliki kemampuan yang mengagumkan dalam memproduksi jam yang presisi. Dia juga memiliki keistimewaan untuk berkomunikasi secara verbal kepada jam yang dibuatnya. Suatu hari, Si pembuat jam selesai menggarap satu arloji, untuk menguji apakah jam tersebut mampu bekerja dengan baik sampai akhir hayatnya (atau sampai baterainya habis), dia bertanya kepada arloji.

“Wahai jam yang baik, kau telah selesai kubuat dan nanti akan berfungsi sebagai penunjuk waktu. Kelak ketika seorang pembeli yang beruntung memilihmu, sanggupkah kau berdetak sebanyak 31.556.930 kali dalam setahun agar bisa menunjukkan waktu yang tepat untuknya?”
Si jam yang masih baru, dengan lapisan logam berkilat-kilat dan kaca yang bening berdiam diri sejenak. Dia memandangi dirinya sendiri yang begitu kecil dan tidak berdaya, berdetak sebanyak 31 juta kali adalah pekerjaan yang sangat berat bahkan terdengar mustahil baginya. Dengan terbata-bata arloji menjawab.

“Maaf, Bapak pembuat jam. Saya hanyalah benda tidak berarti dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Anda, saya tidak sanggup jika harus memikul tugas seberat itu. Berdetak puluhan juta kali rasanya tidak mungkin saya lakukan”
Sang pembuat jam berdiam diri sejenak, dia berpikir. Kemudian mencoba bernegosiasi dengan arloji.

“Baiklah, jika tanggung jawab itu terlalu berat, bagaimana jika engkau berdetak sebanyak 2.629.744 kali dalam sebulan, apakah kau mampu?”

Arloji kembali meragukan dirinya. Meskipun tugas ini terdengar tidak seberat sebelumnya, dia masih tidak sanggup jika harus berdetak jutaaan kali. Sebenarnya dia tidak enak hati menolak permintaan pembuatnya, tetapi akhirnya dia tetap menyatakan keberatan.

“Mohon maaf pak, sebenarnya saya tidak ingin mengecewakan bapak, tetapi melakukan tanggup jawab tadi rasanya berat bagi saya. Saya tidak mampu melakukannya”

Bapak pembuat jam tersenyum, memandangi jam buatannya yang baru saja menyatakan penolakan. Agaknya keberatan yang diajukan arloji tidak membuatnya putus harapan. Kali ini Bapak itu kembali bertanya.

“Baik saya mengerti, bagaimana kalau kau hanya harus berdetak 86.400 kali dalam sehari semalam, kurasa itu tidak terlalu memberatkanmu?”

Ah, jumlah yang tidak terlalu banyak, pikir arloji. Tetapi hal tersebut masih memberatkannya. Benarkah dia sanggup melakukan pekerjaan itu? Mungkin dia bisa, tetapi dia takut gagal ketika melakukannya. Maka dia pun kembali meminta keringanan

“maafkan saya untuk kesekian kalinya, bapak. Saya masih belum sanggup. Permintaan Anda belum bisa saya penuhi”

sekali lagi si pembuat jam tersenyum, rupanya penolakan arloji sama sekali tidak merisaukannya. Maka dengan penuh pengertian dia kembali meminta kesediaaan arloji. Tentu saja dengan tugas yang lebih ringan.

“Jika kau berdetak 3600 kali dalam satu jam, tentu kau mampu bukan?”

Arloji berdiam diri, tak mampu menjawab. Dia kembali berpikir. Mampukah dia? Sudah terlalu banyak ketidaksanggupan yang dinyatakannya dan Bapak pembuat jam masih berharap padanya. Ingin sekali dia berkata “sanggup” tetapi ada sesuatu yang menghalanginya untuk menyatakan ini. Tanpa menunggu jawaban Bapak pembuat jam lagi-lagi menurunkan tawarannya kepada si jam, mungkin untuk yang terakhir kali.

“Baiklah, jika kau tidak sanggup. Kau hanya harus berdetak satu kali saja setiap detik. Bagaimana?”

Tanpa pikir panjang, arloji mungil itu menyanggupinya. Dengan senang hati dia menanti pembeli yang beruntung memilikinya.
Sebagian besar dari kita mungkin berpikir. Sebenarnya tawaran yang diajukan Bapak dari awal sampai akhir sama saja, dan arloji tetap melakukan pekerjaan yang sama beratnya, pada akhirnya. Tetapi sadar atau tidak, kita sendiri sebagai manusia seringkali mengalami hal serupa. Ketika diberi tanggung jawab yang berat dengan deadline yang lama, kita merasa tidak akan sanggup melakukannya. Padahal sebenarnya kita mampu. Bahkan tidak jarang kita harus ‘ditipu’ sebagaimana jam tadi agar melakukan sesuatu yang kecil tetapi konsisten untuk mencapai hasil yang besar.Fenomena lain yang bisa diambil dari cerita jam tadi adalah, seringkali kita merasa tidak enak hati dengan orang yang mencapai kesuksesan. Jauh di dalam hati, kita ingin meraih kesuksesan yang serupa secara instant. Padahal kalau mau dirunut. Orang-orang sukses harus menempuh perjalanan panjang dalam waktu lama untuk merintis kesuksesannya dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Tentu saja, jalan panjang itu diawali dengan langkah-langkah kecil yang konsisten. Seperti jam yang berdetak satu kali tiap detik dan akhirnya puluhan juta kali dalam setahun. Alangkah indahnya jika kita mampu menjadikan satu detik dalam hidup untuk hal-hal bermanfaat yang membawa kita selangkah lebi
h dekat kepada cita-cita besar.


Tidak ada rahasia untuk sukses. Itu adalah hasil persiapan, kerja keras, dan belajar dari kegagalan (Colin Powell)

21 thoughts on “Filosofi dari Sebuah Jam

  1. sesuatu yang besar, jika dipilah dan dipilih bisa jadi terdiri dari hal2 yg kecil….. sehingga bisa diatasi atau diselesaikan dengan mudah atau kita merasa sanggup untuk menyelesaikannya.BTW ini postingan di simpan dulu di draft yah? soalnya tiba2 nongol di antara postingan lain yg sudah nongol dr tadi🙂

  2. huflepuff said: hhee.. benar mbak sri.. walaupun kadang menyakitkan. but, no pain no gain..😀

    Ya, mas, dan mengutip Kahlil Gibran, “mana bisa kita memahami makna suka, kalau kita tidak pernah merasakan duka” ya toh? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s