Journal

Ditilang Polisi di Hari Kartini?

Bertepatan dengan peringatan hari Kartini (21 April 2012) saya merasakan pengalaman yang cukup berkesan dengan polisi lalu lintas Surabaya. Bermula dari ulang tahun salah seorang sahabat yang juga jatuh pada tanggal yang sama, sejak 1 malam sebelumnya saya sudah ada niatan untuk memberinya kado. Pagi hari setelah mengirimkan ucapan di timeline facebook, saya mengirim sms kepada beberapa orang untuk menemani saya mencari hadiah. Sudah 5 orang yang saya ajak namun semua menyatakan ketidaksediaannya.
Untunglah orang keenam yang saya ajak bersedia, kami sepakat untuk berangkat pukul 10.00 WIB (walaupun pada kenyataannya molor 10 menit :p) dari kos teman saya di daerah Perumahan Dosen ITS. Awalnya kami mengendarai sepeda motor tak tahu arah harus kemana. Kemudian teman saya mengusulkan untuk mencari hadiah di Tunjungan Plasa Surabaya. Maka melajulah kami ke Jalan Basuki Rahmat dari Jalan Kertajaya. Sampai di ujung jalan Kertajaya, kami belok kanan, kemudian belok ke kiri ketika kami menjumpai rumah sakit Siloam dan sampai di Jalan Karimun jawa. Dari sini, kita akan menemukan perempatan. Perlu diketahui, sebelum perempatan terdapat Sungai kalimas. Di pinggir sungai Kalimas, terdapat dua kawasan ‘eksotis’ yang ramai di malam hari. Kalau tertarik menyusuri pinggiran Kalimas di sisi kiri jalan (yang lebih dikenal sebagai kawasan Irian Barat atau Irba) diatas jam 8 malam. Anda akan menemukan banyak bencong menjajakan cinta. Para wanita jadi-jadian ini menjadi semakin banyak ketika malam minggu. Di sisi kanan jalan. Terdapat pemandangan yang tak kalah mencengangkan. Banyak pasangan muda maupun tua yang memilih tempat tersebut untuk kencan. Mungkin terdengar biasa, tapi menjadi tidak biasa kalau kita mengetahui bahwa yang memenuhi kawasan itu adalah pasangan pria sesama jenis (hombreng). Kawasan yang satu ini dikenal dengan nama ‘Pattaya’. Saya baru mengetahui eksistensi daerah ini ketika kopdar dengan Mas Nono 1 bulan sebelumnya (Terima kasih telah menambah wawasan saya ya pak –” ).
Back to topic. Sebenarnya kalau ingin ke Tunjungan Plasa biasanya saya belok kanan dahulu lewat jalan Kayoon. Lalu belok kiri ke jalan Embong Kemiri ketika ada pertigaan di sebelah SPBU. Kemudian belok kiri lagi ke Jalan Jenderal Sudirman. Yang terakhir belok kanan dan balik arah ke Jalan Basuk Rahmat. Untuk lebih jelasnya, ‘jalan’ yang benar adalah rute yang ditunjukkan oleh garis warna biru. karena ingin mencoba jalan pintas, saya memilih rute lurus yang tembus langsung ke Jalan Jenderal Sudirman (rute warna hijau).


Image Courtesy of maps.google.com

Saya dengan ‘Pe-De’ nya memacu sepeda motor dan bersiap belok ke Jalan Basuki Rahmat. Namun di pos polisi (yang saya tandai dengan warna merah) sudah ada polisi memakai masker dan kacamata hitam yang menyeberang jalan dan melambai-lambaikan tangan memberikan isyarat untuk berhenti. Wah, kena tilang nih… batin saya, namun saya mencoba tetap tenang, memasang ekspresi datar dan bertanya :
“Saya pak?”
Polisi tersebut mengangguk dan menyuruh saya untuk menepi.
“Selamat siang mas, boleh saya lihat surat-suratnya?”
Saya sibuk mencari STNK dan SIM di dompet, namun belum sempat saya mengeluarkan keudanya. Pak Polisi meminta saya untuk masuk ke pos polisi. Di dalam pos ada polisi lain yang tampangnya sudah tua, berbadan besar, dan beberapa rambutnya sudah beruban. Saya kemudian menyerahkan SIM dan STNK ke Pak Polisi berbadan besar. Lalu dia menjelaskan kalau saya telah melanggar rambu lalu lintas. Rupanya ada marka jalan yang tidak mengizinkan pengguna jalan untuk langsung belok kanan ke Jalan Basuki Rahmat kalau datang dari arah rute warna hijau yang saya gambar di peta tadi. Saya menyatakan ketidaktahuan saya, lha wong memang tidak ada keterangannya. Sial juga, batin saya. Padahal baru 2 hari sebelumnya saya bercerita ke orang yang akan saya beri kado kalau selama hampir 4 tahun tinggal di Surabaya saya belum pernah kena tilang :p. Mungkin ini karmanya ya?.. Hahaa.
Pak Polisi berbadan besar kemudian bertanya :
“Ikut sidang mas ya?”
“Saya ambil slip biru saja pak”
Sekilas saya menangkap sedikit ekspresi ganjil di wajah Pak Polisi. Sambil menghela nafas panjang beliau melanjutkan :
“Yakin mau ambil slip biru? Ini, saya perlihatkan ya.. kalau mau slip biru. Mas harus bayar denda maksimum. Kalau mau bayar maksimum ya silakan. Ini dendanya”. Lanjut beliau sambil menunjukkan pasal sekian dan bentuk pelanggarannya : Tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan denda maksimumnya adalah… 500.000 rupiah. Buset, duit darimana kalau saya mau bayar denda maksimum. Saya tidak percaya begitu saja dan kembali bertanya dengan sopan, sesopan yang bisa saya lakukan :
“Tapi pak, ini di catatan kakinya kan ada keterangannya. Kalau denda maksimum dibayar jika yang bersangkutan tidak hadir dalam sidang. Jadi dapat slip merah dulu, baru kalau tidak bisa hadir waktu sidang dia bayar denda maksimum”
Pak Polisi kembali bersikeras meyakinkan :
“Lho enggak mas, coba baca keterangannya lagi ini”
Saya masih tidak percaya begitu saja. Saya kemudian meminta waktu untuk keluar dari pos polisi menghubungi Ibu saya lewat telepon. Begitu mendengar kabar bahwa anaknya kena tilang di Surabaya, Ibu saya langsung panik.. –“. Saya meminta beliau agar tenang. Kemudian meminta tolong untuk menghubungi tetangga depan rumah yang juga polisi dan bertanya tentang kejelasan slip biru. Kemudian telepon saya tutup sambil menunggu jawaban dari sana. Di dalam pos, Pak polisi berbadan besar bertanya kepada teman saya :
“Kuliah dimana?”
“Di ITS pak”, jawab teman saya agak kesal. Karena dia memang tidak terlalu suka berurusan dengan polisi.
“Hah… ITS??” Pak Polisi memperlihatkan ekspresi tidak biasa untuk kedua kalinya. Entah mengapa. Tidak lama kemudian beliau memanggil saya yang berada di luar pos.
“Mas.. masuk sini” seru beliau sambil melambaikan tangan.
Ketika saya masuk pos lagi beliau bertanya :
“Kok lama sekali mas”
“Eh, iya pak.. saya sedang menelepon Ibu saya, soalnya uang saya terbatas” jawab saya asal saja.
Di luar dugaan Pak Polisi menyerahkan STNK dan SIM saya yang disita.
“Wes mas, ini STNK dan SIM nya. Lain kali kalau nyebrang gak boleh lewat sini. Karena ada tandanya garis lurus di jalan raya. kalau mau nyebrang harus muter dulu, lewat jalan Kayoon, pas ada pom bensin belok kiri”
“Oh, iya maaf pak. Saya belum tahu. Soalnya saya bukan orang asli sini”
Akhirnya kami bersalaman dan saya mengucapkan terima kasih. Setelah cukup jauh dari jangkauan pendengaran Pak Polisi, saya dan teman saya
ketawa-ketiwi ..πŸ˜€
“Hahahaaaa… Untung ae gak ditilang”

epilog :
Banyak artikel tentang slip biru di internet, terutama yang menceritakan sopir taksi cerdas yang mengerjai polisi sa
at ditilang. Sebagai tambahan pengetahuan. Trik minta slip biru untuk saat ini sebaiknya jangan diterapkan. Karena Undang-undang tentang pelanggaran lalu lintas sudah diperbaharui. Undang-undang terbaru yang berlaku saat ini adalah Pasal 267 UU No 22 thn 2009 yang isinya :
(1) Setiap pelanggaran di bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang diperiksa menurut acara pemeriksaan cepat dapat dikenai pidana denda berdasarkan penetapan pengadilan.
(2) Acara pemeriksaan cepat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan tanpa kehadiran pelanggar.
(3) Pelanggar yang tidak dapat hadir sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menitipkan denda kepada bank yang ditunjuk oleh Pemerintah.
(4) Jumlah denda yang dititipkan kepada bank sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sebesar denda
MAKSIMAL yang dikenakan untuk setiap pelanggaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
(5) Bukti penitipan uang denda wajib dilampirkan dalam berkas bukti pelanggaran.

Jadi, kalau kita tetap ngeyel minta slip biru. Bisa dipastikan kita akan membayar denda maksimal (dalam kasus saya adalah 500.000). Kalau minta slip merah, kita akan mengikuti pengadilan dan denda yang dibayarkan jauh dibawah denda maksimum, bahkan pada kebanyakan kasus nominalnya dibawah tarif ‘uang damai’ yang kita bayarkan . Untungnya dalam kasus ini, saya benar-benar beruntung karena dibebaskan tanpa tuntutan apapun..

32 thoughts on “Ditilang Polisi di Hari Kartini?

  1. tuneman said: Paling repot kena tilang/saman di S’pur, dlm 24 jam udah online. tak bayar, tak bisa keluar : )

    Kalau kena bayar berapa pakcik?x boleh bayar percuma ya? hehee

  2. jampang said: wah… bener2 beruntung… saya juga pernah nggak jadi ditilang :)3tapi pernah ditilang juga dan ngikutin sidang

    Antara beruntung dan sial mas rifki..beruntung karena lolos..sial karena (tidak sengaja) melanggar rambu lalu lintas.. :p

  3. tuneman said: Lumayan sihh, pake SGD hehehe…kalo negeri saya minimum tilang RM300

    Itu di negeri sembilan RM300.. mahal kalee pakcik.. kat Indonesia minimal boleh bayar RM10.. :p

  4. mazintan said: hombreng ya di sana … di sini dipanggil homoseks …

    Sama saja kok.. disini juga disebut homoseks.. Hanay saja hombreng itu istilah gaulnya.. heheBy the way.. salam kenal YaπŸ˜€

  5. subhanallahu said: emang ada apa dengan ITS? kali bos pak polisi lulusan ITS juga?πŸ˜€

    Saya juga gak tahu mas.. soalnya dulu teman saya cewek juga gitu.. Pas ngomong kalau kuliah ITS dia dibebaskan.. :pMungkin takut didemo ya.. hahaa

  6. nanazh said: mengharukan.. *loh?ada sangkut paut apa sih ITS ma nggak kena tilang? kok bisa?

    Mengharukan apanya nas… –“gak tahu juga uda.. saya sebenarnya pingin tanya tanya lagi.. tapi takut malah gak jadi dibebaskan.. hehee..nanti coba dulu nas di painan, kalo kena tilang.. bilang kuliah di ITS.. hahaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s