Journal

CATATAN MALAYSIA (+THAILAND) 2 :Menyusuri Lebuh Raya dari Kuala Lumpur menuju Hatyai

Hari masih gelap, jam masih menunjukkan pukul 04.30 waktu Malaysia. Sedangkan adzan Subuh masih beberepa menit lagi. Namun saya sudah terbangun karena tidur lebih awal dari biasanya (biasanya kalau di Indonesia tidur jam 2 atau jam 3 dini hari.. :p). Saya perhatikan sekeliling, saya baru teringat kalau sudah sampai di Kuala Lumpur dan menginap di rumah Bang Fazli. Setelah menunggu adzan Subuh, menunaikan shalat, saya tidur lagi. Jam 7 Saya dan Bang Fazli sudah bangun. Kami bersiap melakukan perjalanan panjang naik kereta (mobil) Bang Fazli, tidak tanggung-tanggung. Kami akan pergi ke Hatyai, kota ketiga terbesar di Thailand yang berjarak sekitar 550 km dari Kuala Lumpur. Wowww.. Pukul 9 kami semua siap dan menuju ke depan kompleks apartemen. Disana terdapat warung-warung yang berjajar yang menjual aneka makanan. Kami pergi ke salah satu kedai. Saya memesan nasi lemak dan Bang Fazli memesan lontong. Untuk minum, kami berdua memesan Teh Tarik panas.

Usai sarapan, kami lansung memulai perjalanan menuju ke Utara melewati Lebuhraya. Perlu diketahui. Lebuhraya di Malaysia bagian barat (Semenanjung) terbentang mulai dari negara bagian paling selatan (Johor) sampai paling utara (Kedah) yang berbatasan dengan Thailand sepanjang lebih kurang 1000 km. Panjangnyaa… Tentu saja perjalanan kemanapun bisa ditempuh dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan jalan raya yang biasa. Ketika masuk Lebuhraya, terdapat gerbang Tol seperti di Indonesia. Bedanya, hanya sebagian kecil di gerbang tersebut yang terdapat penjaga pintu tol. Lainnya, serba otomatis. Untuk melakukan transaksi di Lebuhraya, kita bisa membeli kartu berlangganan yang bisa diisi ulang. Kartu tersebut dipasang dalam alat yang bisa dideteksi oleh sensor optik yang dipasang di gerbang tol. Ketika alat tersebut dideteksi oleh sensor, maka secara otomatis keluar berapa biaya pembayaran dan sisa balance dalam kartu tersebut. Tentu saja ini akan menghemat pengeluaran untuk menggaji para pekerja di pintu Lebuhraya.


Sepanjang perjalanan melewati negara bagian Selangor dan Perak, di kiri kanan Lebuhraya didominasi oleh kebun kelapa sawit. Pemandangan ini juga menjadi hal biasa di negara bagian lain di sebelah selatan (misalnya Negeri Sembilan dan Johor). Pemandangan pegunungan juga kami jumpai di berbagai tempat. Selain kebun kelapa sawit, ada juga kebun karet yang getahnya memiliki aroma khas. Kata Bang Fazli, ini adalah bau uang. Hehee.. Di tengah jalan, kami berhenti untuk mengisi bensin. Di Malaysia, tidak hanya perusahaan minyak tempatan saja yang eksis .

Namun perusahaan minyak lain seperti Shell, Caltex, perusahaan minyak dari Phillipina dan negara lain pun juga cukup ramai membuka stasiun pengisian bahan bakar di Malaysia. Semua harga bahan bakar di stasiun tersebut di subsisdi oleh pemerintah. Bedanya lagi, kalau mau ngisi bensin. Kita tidak akan disambut oleh operator pengisi bensin yang menyapa “dimulai dari nol ya pak”. Pengisian bensin kita lakukan sendiri dengan membayar terlebih dahulu memakai kartu belangganan atau membayar tunai. Serba otomatis dah. Memasuki negara bagian yang lebih utara, pemandangan di Lebuhraya didominasi oleh sawah padi. Oh ya, sekitar siang hari kami beristirahat di kedai makanan yang terdapat di setiap beberapa kilometer di Lebuhraya. Pada saat mau berangkat lagi, terjadi masalah kecil. Alarm mobil menyala dan tidak mau berhenti. Bang Fazli pun menghubungi petugas patroli Lebuhraya. Dalam waktu singkat masalah sudah teratasi, dan biayanya? Percuma alias gratis. Karena memang sudah menjadi fasilitas di Lebuhraya.

Sekitar pukul 5 waktu setempat. Kami sampai di dekat perbatasan Kedah-Thailand. Disana Bang Fazli mengurus insurance mobil agar bisa dibawa masuk ke Thailand. Sekalian menukarkan uang. Saya menukar uang 102 Ringgit Malaysia ke 1000 Baht Thailand. Di imigrasi Thailand, saya sudah sering mendengar kalau sebaiknya kita menyelipkan uang di dalam paspor agar proses imigrasi berjalan lancar. Atas saran Bang Fazli, saya menyelipkan 2 ringgit dan dia melakukan hal yang sama. Mula-mula saya duluan yang menyerahkan paspor untuk distempel. Tidak ada masalah. Namun pada saat giliran Bang Fazli, si petugas bertanya “where is the money?” Rupanya Bang Fazli menyelipkan uang di bagian belakang paspor sehingga si petugas tidak langsung menemukannya… Hehee.. Yah, setidaknya ini jadi bukti kalau masuk ke Imigrasi Thailand memang sebaiknya menyelipkan uang🙂.

WellFinally kami membaca Tulisan “Thailand”. Saya masih tidak percaya bisa sampai di negeri Gajah Putih, naik mobil pula. Namun, urusan insurance mobil belum selesai. Formulir yang diurus di Kedah tadi harus ditunjukkan ke petugas imigrasi di loket yang lain. Sehingga Bang Fazli memarkir mobil di pinggir jalan dan saya menunggu di dalam. Sedangkan dia ke loket imigrasi lagi. Selang beberapa menit menunggu, ada yang menggedor kaca mobil. Saya kira Bang Fazli yang datang, ternyata polisi Thailand! Apes dah. Dia menyuruh saya untuk memindahkan mobil, karena disitu dilarang parkir. Saya jawab I can’t drive!. Namun dia masih saja menyuruh saya memindahkan mobil dan memaksa saya masuk ke kursi kemudi. –“. Sayangnya, bahasa Inggrisnya juga tidak terlalu bagus. Dia kemudian mengomel dalam bahasa Thai yang saya tidak tahu artinya. Dia kemudian pergi, sedangkan saya masih tetap duduk di kursi kemudi. Tidak beberapa lama, si polisi datang lagi membawa seseorang yang lain, warga setempat. Untungnya dia bisa berbahasa Melayu. Dia yang membantu saya memindahkan mobil. Fiuhh.. Saya kira tadi bakal kena tilang.. :p

Kami melanjutkan perjalanan terus ke
utara menuju kota Hatyai, di tengah jalan kami berhenti sebentar di masjid terdekat untuk Sholat Ashar. Ya, masjid masih mudah ditemukan di daerah selatan Thailand. Bahkan kami sering menjumpai wanita-wanita yang mengenakan kerudung. Saya menunggu di luar masjid karena sudah menjamak Sholat ketika istirahat di Malaysia tadi. Saat menunggu, saya melihat segerombolan anak kecil lewat. Wajah mereka Melayu banget. Hehe, ketika melihat saya mereka menunjuk-nunjuk sambil berkata “Tailo” (setidaknya itulah yang saya dengar), dan tertawa. Saya sempat mengabadikan foto mereka dan mereka terus saja berkata “Tailo”, ‘Tailo”. Lahh.. emangnya gue Tai?? –“

Kami sampai di Hatyai sekitar satu jam kemudian dan mampir di sebuah rumah makan yang penjualnya memakai kerudung. Pertanda kalau makanan yang dijual disini terjamin kehalalnnya. Bang Fazli mengajak si penjual berkerudung bercakap-cakap dalam bahasa Melayu, namun si penjual tidak mengerti dan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Untungnya, ada seorang laki-laki yang juga penjual (tampaknya dia bosnya) yang boleh cakap Melayu. Dia menunjuk-nunjuk cewek berkerudung tadi sambil berkata “dia bisu!” sambil tertawa.

Kami diberi daftar menu dan dipilihkan tempat duduk yang nyaman di luar ruangan. Dia sangat ramah, Bapak tadi menawarkan untuk mencicipi makanan andalan disini yaitu Tomyam kelapa muda. Kami pun mengiyakan dan sekalian memesan dua piring nasi plus tumis kangkung (kalau tidak salah). Tidak beberapa lama, pesanan datang. Hmm. Baru kali ini saya merasakan Tomyam. Rasanya pedas, sesuai dengan selera saya. Dengan udang yang superbesar, sebesar telapak tangan orang dewasa. Di dalam kuahnya juga terdapat kelapa muda yang awalnya saya kira adalah potongan daging. Rasanya maknyuzzz. Ketika nasi sudah habis, rupanya Tomyam masih tersisa banyak, kami putuskan untuk membungkusnya dan memesan dua nasi lagi agar bisa dimakan waktu malam hari. Yah.. memang nikmat di awalnya, namun ketika tahu berapa harga total makanan tadi kami tercengang : 660 Baht! (silakan hitung sendiri, 1 Baht kira kira sama dengan 300 rupiah). Rupanya Tom yam tadi yang harganya paling mahal, sekitar 400 Baht. Sedangkan nasi dan lainnya harganya standar. (waktu itu Bang Fazli yang bayar makanannya).

Dengan perut kenyang dan sedikit kecewa, kami melanjutkan perjalanan dan mencari penginapan. Mobil kami berhenti di depan Laem Thong Hotel. Ya, kami memutuskan untuk menginap semalam disana. Waktu itu kami menyewa satu kamar dengan dua tempat tidur seharga 500 Baht. Kamar kami berada di lantai 5. Di dalamnya terdapat AC, Televisi, kamar mandi plus shower air panas. Lumayan untuk harga 500 Baht.

Memang harga-harga di Hatyai relatif lebih murah dibandingkan dengan Jakarta Waktu kami mencoba menonton televisi, tidak ada satupun channel yang kami mengerti. Semua pakai bahasa Thai. Kami juga menyempatkan diri untuk berjalan-jalan melihat-lihat Hatyai di malam hari. Hatyai merupakan kota terbesar di Provinsi Songkhla. Jadi tidak heran kalau lalu lintas disini ramai. Di pinggir-pinggir jalan banyak orang berjualan, mengingatkan saya dengan Pedagang Kaki Lima di Indonesia. Wajah-wajah turis mancanegara juga saya jumpai, di salah satu bar, wajah Mat Saleh (Orang Eropa dalam bahasa Melayu) mendominasi. Saya juga bertemu dengan rombongan turis yang sepertinya dari Cina. Selain Cina, turis dari Malaysia juga lumayan banyak, beberapa kali saya menangkap percakapan mereka dalam bahasa Melayu. Saya sempatkan untuk membeli kaos seharga 100 Baht, dan gantungan kunci 90 Baht (isi 5). Lumayan murah lah.. hehe. Setelah membeli beberapa barang, Saya mengantar Bang Fazli kembali ke hotel. Karena sudah kecapekan. Kami sempat nyasar tidak tahu arah karena semua jalan penampakannya sama! Dan tidak ada petunjuk arah seperti yang lazim dijumpai di tempat-tempat wisata. Setelah berputar-putar selama 30 menit kami berhasil menemukan hotelnya. Saya sempat masuk kamar beberapa saat, setelah itu memutuskan berkeliling lagi karena masih belum puas. Baru kembali sekitar satu jam kemudian (waktu kembali untuk kedua kalinya pun saya masih nyasar.. Hahaa). Pukul 12 malam waktu setempat saya baru sampai hotel dan langsung tidur.

26 thoughts on “CATATAN MALAYSIA (+THAILAND) 2 :Menyusuri Lebuh Raya dari Kuala Lumpur menuju Hatyai

  1. dulu q kalo pulang krja petang sering beli di dekat hostel (kayak pdagang kaki lima). Yang jual kakak dari thai juga, saking seringnya beli diajarin masaknya katanya cewek itu harus bisa masak jangan jajan terus. . . (hahaha. .pedagang yg aneh)pas pulang sempet bawa pasta tomyam q masak di rumah pada ga doyan. Katanya aneh. . Sup kok asem. .

  2. Hahaaaa.. pedagang yang hatinya tulus kuwi mbak.. ;p..Baik banget ya.. diorang melayu juga ke?Wahh.. masak nang Gresik kene wae mbak.. pasti tak entekno. Maknyuz kali.. apalagi kalau ada rasa pedasnya.. best giler.. hahaa😀

  3. melayu thai. Tapi stlah ada garukan dia ga jualan lg. Pdhl masakannya enak. Tomyam, nasgor pattaya, nasgor daging merah. . . *ngiler*pasta tomyam dah abis. Bikin dewe kurang greget.

  4. @Mbak Lina : garukan itu macam satpol PP ya? hahaaa…jadi dia jualan gak pake lesen gitu? sayang sekali sudah gak eksis lagi. mungkin dia buka warung makan sendiri ya? (semoga)

  5. bundel said: Saya baru tahu ada tomyam kelapa muda. Enak ya pastinya.*lap eces*

    Uenakkk poll bunda.. apalagi udang raksasanya itu.. hmmm.. jadi ikutan ngeces juga ini… hahaa..

  6. huflepuff said: Uenakkk poll bunda.. apalagi udang raksasanya itu.. hmmm.. jadi ikutan ngeces juga ini… hahaa..

    Lha ya jelas lah, wong hotel sama makanan harganya nyaris seimbang😛

  7. bundel said: Lha ya jelas lah, wong hotel sama makanan harganya nyaris seimbang😛

    Malah lebih mahal harga makanannya sih.. :psayang di sini gak nemu orang jual tomyam.. adanya penyetan semua.. hahaa

  8. ho’oh. . Nek nang kono ra tanggung2 lapak lgsg diangkut/dirobohkan. Pernah pas garukan warung bakso (sing dodol wong jatim) lg arep mangkal trus baksone mung dibagi2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s