Journal

CATATAN MALAYSIA (+THAILAND) 3 : Bye-Bye Hatyai

Pagi hari pertama dan terakhir di Hatyai, saya terbangun dalam keadaan menggigil karena AC diset pada temperatur rendah. Saya melihat ke luar jendela, matahari masih belum terbit sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 05.30. Kalau di Indonesia sudah terang nih, hehe. Tanpa berlama-lama lagi saya langsung membersihkan diri dan menunaikan sholat subuh dengan arah kiblat yang sudah ditunjukkan oleh resepsionis pada malam sebelumnya. Beberapa saat kemudian Bang Fazli juga terbangun. Entah sejak kapan tepatnya, saya tidak tahu karena Bang Fazli memeberitahu saya bahwa semalam tidak bisa tidur. Setelah bersiap-siap, kami keluar hotel untuk mencari sarapan. Di luar, jalanan sudah cukup ramai. Mobil dan sepeda motor bersliweran. Mirip dengan suasana lalu lintas di Indonesia, sesekali Tuk-tuk, angkutan tradisional Thailand juga lewat di depan kami.


Tetapi lebih banyak Tuk-tuk yang berhenti di pinggir jalan alias nge-tem. Kalau lewat di depan Tuk-tuk pak sopir pasti menawari kami untuk naik, yang langsung kami tolak tawarannya. Saya perhatikan lagi, selain berfungsi sebagai transportasi publik, tuk-tuk di Thailand juga dipakai sebagai papan iklan berjalan. Kebetulan kami melihat satu tuk-tuk yang bagian pinggirnya dipasang iklan yang tampaknya seperti kampanye salah satu tokoh politik setempat.

Nomor plat kendaraan bermotor di Thailand dilatarbelakangi warna putih dengan tulisan hitam. Kalau di Indonesia ada informasi plat nomer dan tanggal masa berlaku (kadang-kadang juga nama pemilik kendaraan, hehe), di Thailand plat tersebut hanya memuat plat nomernya saja. Sayangnya kami hanya mengerti nomernya saja, karena huruf di plat tersebut ditulis dalam bahasa Thai dengan abjad seperti cacing mlungker :p.

Setelah berputar-putar, kami menemukan sebuah rumah makan yang menyediakan makanan halal. Pemiliknya memakai jilbab dan boleh cakap Melayu. Yah, pemandangan seperti ini memang banyak dijumpai di kawasan selatan Thailand. Bang Fazli bercakap-cakap dengan pemilik warung, dari beberapa pembicaraan yang saya tangkap, dia punya kerabat yang bekerja di Malaysia.

Yah, tenaga kerja dari Thailand yang mencari nafkah di Malaysia memang banyak, meskipun tidak sebanyak tenaga kerja dari Indonesia. Bang Fazli memesan roti canai isi pisang. Sedangkan saya makan nasi. Saya baru tahu kalau orang Malaysia tidak terbiasa makan nasi sebagai sarapan, mereka lebih suka makan roti.

Di tengah-tengah sarapan, ada yang berlari mendekati kami dan ‘mblusuk’ ke bawah meja. Ternyata kucing peliharaan situ, saya dan Bang Fazli yang sama-sama penggemar kucing langsung tertarik memperhatikan hewan lucu (atau comel dalam bahasa melayu) tersebut, si kucing berwarna jingga memain-mainkan tas kamera saya. Langsung saja saya jepret mumpung ada kesempatan. Si kucing kemudian berlari meninggalkan kamimenuju ke bawah meja yang lain. Tidak beberapa lama, ada sosok lain yang juga berlari ke arah kami. Ternyata itu kelinci!! Hahaaa. Tampaknya pemilik warung benar-benar seorang penyayang hewan. Berbeda dengan kucing tadi, kelinci yang ini badannya lebih besar dan montok, cocok buat sate kelinci *ehh*.

Kali ini saya sempat mengambil dan menggendong si kelinci. Sayang waktu itu tidak sempat mengabadikannya lewat kamera. Hehe. Begitu melihat kelinci tersebut muncul, si kucing langsung berlari mengejarnya. Tampaknya sudah lama si kelinci menjadi bulan-bulanan. Kasihan, semoga dia kuat menjalani cobaan hidupnya dengan tabah. Hahaaa

Kami memutari Hatyai lagi untuk membeli sesuatu, Bang Fazli ingin mencari kabel konektor yang dulu pernah dia beli di Thailand yang tidak ada di Malaysia. Sedangkan saya melihat-lihat dan mengambil gambar, sambil mengikutinya dari belakang. Kami mencari di toko-toko yang berderet di pinggir jalan raya, dengan banyak kendaraan yang diparkir. Sementara para calon pembeli berlalu lalang. Sebenarnya, ini mengingatkan saya dengan suasana di Pasar Gresik. Sayangnya Bang Fazli tidak menemukan barang yang dicari. Kami memutuskan kembali ke hotel untuk checkout dan melanjutkan perjalanan. Sekali lagi, kami dibingungkan dengan jalanan kota Hatyai yang banyak perempatan dan suasananya yang identik. Walhasil kamipun nyasar lagi. Untungnya semalam saya sempat memfoto bagian depan hotel sekaligus papan namanya. Ketika kami bertanya di mana lokasi Laem Tong Hotel, banyak yang tidak tahu, mungkin karena pengejaan kami salah ya :p. Tetapi begitu saya menyodorkan gambar di kamera, orang yang kami tanyai langsung faham dan menunjukkan arahnya. Dari yang saya alami, ternyata kebanyakan orang Thailand tidak terlalu pandai berbahasa Inggris. Bahkan, di Hatyai lebih banyak yang pandai berbahasa Melayu. Begitu menemukan hotel, kami langsung naik ke lantai lima dan mengemasi barang-barang kami kemudian checkout.

Rencana Bang Fazli selanjutnya adalah kembali ke Malaysia lewat perbatasan yang lain. Kalau kemarin kami datang melewati perbatasan Kedah-Sadao. Pulangnya kami lewat perbatasan Satun-Perlis.
Dengan berbekal papan petunjuk jalan, Bang Fazli membawa mobilnya menuju ke tempat tujuan. Semakin lama bangunan bangunan di kiri kanan jalan semakin sepi. Di tengah jalan Bang Fazli berhenti untuk membeli rambutan. Wahh, ternyata di Thailand juga ada rambutan. Kali ini dengan tangan kanan mengendalikan kemudi dan tangan kiri makan rambutan, Bang Fazli terus saja membawa kami meninggalkan Hatyai dan akhirnya kami sampai di daerah pesisir Thailand Selatan. Kami berhenti di pelabuhan kecil yang isinya hanya ada tiga kapal. Salah satu kapal berbendera Malaysia. Saya pun langsung mengambil beberapa foto dokumentasi (khusus Bang Fazli, sebagai bukti bahwa mobilnya sudah pernah mencium aspal Thailand, :p).

Liburan kali ini, saya benar-benar menemukan banyak pengalaman baru. Salah satunya ketika kami kembali menaiki mobil setelah berhenti di pelabuhan tadi, Bang Fazli melambatkan laju kendaraan dan berkata kepada saya : “Haryo, x nak cuba bawa mobil??. Awalnya saya kira Bang Fazli hanya bercanda, tetapi ternyata serius. Akhirnya untuk pertama kalinya (lagi) dalam hidup, saya menyetir mobil, di Thailand lagi!! Benar-benar pengalaman yang sangat berharga. Apalagi mobil yang pertama kali saya setir adalah mobil Malaysia. Hahaaa.. Thanks for this experience Bang🙂.

33 thoughts on “CATATAN MALAYSIA (+THAILAND) 3 : Bye-Bye Hatyai

  1. bunda@enak. . . Kalo canai kosong atau canai telur kan makannya pake kuah kari (aku ga doyan) kalo canai pisang ini isinya pisang. . Jadi berasa kayak pisang goreng sih jadi kayak lumpia diisi pisang gtu kali ya? Soalnya aq suka canainya yg liat2 gmana gtu. . .*ya ampun ngeces lg*#bantuin haryo jawab

  2. asasayang said: bunda@enak. . . Kalo canai kosong atau canai telur kan makannya pake kuah kari (aku ga doyan) kalo canai pisang ini isinya pisang. . Jadi berasa kayak pisang goreng sih jadi kayak lumpia diisi pisang gtu kali ya? Soalnya aq suka canainya yg liat2 gmana gtu. . .*ya ampun ngeces lg*#bantuin haryo jawab

    Oh…….? Wah kowe ngiming-imingi aku :-D*ngelap eces*

  3. asasayang said: huaaa. . .lagi2 dipameri makanan yg q demen. . Canai pisang. . . Kapan bisa makan lg?? Hiks

    Aku malah durung nyoba blas Mbak.. hheebikin sendiri di rumah bisa kan ya? kan ada tepung maizena.. hihiii :p

  4. tintin1868 said: kasian kelincinya dikejarkejar kucing.. disate aja kali ya..

    Kalau disate malah kesian mbak… :pTapi kelincinya masih sehat sehat saja, entah mungkin mentalnya yang sakit,, haha

  5. asasayang said: bunda@enak. . . Kalo canai kosong atau canai telur kan makannya pake kuah kari (aku ga doyan) kalo canai pisang ini isinya pisang. . Jadi berasa kayak pisang goreng sih jadi kayak lumpia diisi pisang gtu kali ya? Soalnya aq suka canainya yg liat2 gmana gtu. . .*ya ampun ngeces lg*#bantuin haryo jawab

    Thanks sudah dijawab Mbak Lina…*melu ngiler iki*Gak nyoba bikin? ntar langsung kopdar.. hahaaa

  6. asasayang said: bunda@haryo yg ngiming2i aku. . . Hiksharyo@ga iso yo. . . Kan bikinnya dilempar2 koyok piring terbang

    Yang pesen canai pisang kan cik Fazli.. (dadi nyalahno uwong laine :p)Kalau roti canai ada di ampel Mbak, tapi gak ada yang berisi.Sayang pas di sono gak nyoba blas… hheeeGak ada niat pergi kesono lagi? ntar saya nitip.. :p

  7. faziazen said: ketemu bencong ga?😀

    Semua orang tanyanya sama dah mbak…hahaaaabelum ketemu, *ehh* Disana aman aman saja, yang banyak di daerah Pattaya atau Bangkok. Hatyai sekitar 10 jam dari Bangkok, masih jauhhh..😀

  8. huflepuff said: Semua orang tanyanya sama dah mbak…hahaaaabelum ketemu, *ehh* Disana aman aman saja, yang banyak di daerah Pattaya atau Bangkok. Hatyai sekitar 10 jam dari Bangkok, masih jauhhh..😀

    xixixixixixixixi😀

  9. huflepuff said: Dimana kuwi mbak?Aku weruhe nasi goreng janc*k.. hehee

    oalah..dadi arek suroboyo saikinasgor biasa aja..pake bumbu thai yg campur baur, trus dibungkus dadar, jadi nasinya ga keliatan

  10. faziazen said: oalah..dadi arek suroboyo saikinasgor biasa aja..pake bumbu thai yg campur baur, trus dibungkus dadar, jadi nasinya ga keliatan

    sejak 4 tahun lalu Mbak Faiza.. (ket kuliah) hehee.. ohh.. itu di Gresik juga ada.. cuman rumah makannya sudah tutup.. sepi pengunjung.. kasihan.. hahaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s