Journal

CATATAN MALAYSIA + THAILAND 4 : Mambang Satul Mosque dan Insiden Pam

Biarpun mau digusur, ngeblog jalan terus.. Hehee.

(16 Juli 2012)

Lanjutan dari cerita sebelumnya. Setelah mencoba menyetir mobil untuk pertama kalinya di Thailand, Bang Fazli mengambil alih kemudi sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika tiba waktu Sholat Dhuhur, kami sampai di Masjid di daerah Satun, Provinsi Songkhla. Nama Masjidnya : Mambang Satul Mosque. Masjid tersebut didirikan oleh Tunku Mohammad Akem yang dulunya memerintah di Kota Satun. Pada awal pembangunan, Masjid Mambang Satul memiliki luas 13 x 15 meter. Pada tahun 1974 bangunan tersebut dihancurkan dan dibangun kembali pada tahun 1974 dengan menelan biaya renovasi sebesar 11,98 juta Baht atau sekitar 3,594 Miliar Rupiah untuk kurs saat ini. Raja Thailand kemudian meresmikan Masjid tersebut pada 20 september 1979. Darimana saya mendapat informasi ini? Ada kok di papan Masjidnya.. Hahaa.

Untuk masuk ke dalam Masjid, kita bisa melewati tangga naik yang terletak di muka Masjid. Dengan beberapa bendera (termasuk bendera Thailand) di kanan kirinya. Tangga tersebut kemudian bercabang menjadi dua, ke kiri dan ke kanan. Tempat wudhunya terletak di dalam masjid. Tidak seperti tempat wudhu yang biasa kita jumpai di Indonesia atau Malaysia. Keran airnya dipasang rendah dengan tempat duduk di sebelahnya. Jadi wudhunya sambil duduk. Usai sholat Bang Fazli langsung istirahat karena kelelahan menyetir. Sedangkan saya berkeliling melihat-lihat Masjid.

Jika ada yang ingin ke toilet, saya sarankan agar mempelajari huruf Thai atau  huruf Jawi (Huruf Arab Melayu). Karena papan petunjuk toilet disini hanya ditulis dalam dua bahasa tersebut. Saya sempat kebingungan ketika akan masuk toilet. Khawatir kalau salah masuk ke toilet wanita. Untungnya Bang Fazli sempat mengajari saya huruf Jawi. Saya coba membaca tulisan Arab Melayu tersebut, yang bunyinya kurang lebih Tandas Al-Laki. Ohh.. Pasti ini toilet pria (dan untungnya memang benar :D). Bang Fazli yang sudah bangun dari tidurnya juga ikut berkeliling. Setelah mengambil gambar beberapa kali kami melanjutkan perjalanan lagi menuju perbatasan Thailand-Malaysia. Karena Bang Fazli belum familiar dengan daerah tersebut (apalagi saya), kami sempat bertanya arah ke beberapa orang. Mujur,kami bertemu dengan Seorang wanita Thailand berjilbab dan boleh cakap Melayu (sayang saya lupa namanya). Dengan ramah dia menunjukkan jalan dan sekalian naik mobil karena akan pergi ke arah yang sama. Dari ceritanya, ternyata dia adalah seorang guru yang mengajar di Yayasan Islam yang mengurus Anak yatim, dan kami mengantarkannya sampai ke tempat tadi. Hmm.. rupanya Syiar islam juga dapat kita rasakan di negeri Gajah Putih ini🙂.

Kami melalui jalanan yang masih hijau dengan pemandangan pegunungan selama beberapa menit, sampai kami menjumpai perbatasan Malaysia. Satun berbatasan langsung dengan Perlis, negara bagian dengan wilayah terkecil di Malaysia. Di pos imigrasi Thailand kami turun dari mobil dan menunjukkan paspor. Tidak lupa saya menyelipkan uang satu Ringgit di dalam paspor tersebut. Berikutnya kami menuju ke imigrasi Malaysia yang letaknya bersebelahan. Bang Fazli naik mobil sedangkan saya di belakangnya berjalan kaki. Jangan khawatir.. Saya tidak ditinggal, karena memang pos imigrasi kami beda, heheee.. Bang Fazli masuk ke pos imigrasi khusus untuk warga Malaysia dan menuju pos untuk pendatang asing. Seperti biasa, petugas imigresen bertanya, tanggal berapa saya pulang ke Indonesia. Wajar, pertanyaan ini selalu muncul karena pada beberapa kasus orang Indonesia menggunakan paspor melancong untuk masuk ke Malaysia dan mencari kerja disana. Yah, dan kami akhirnya menikmati kembali udara Malaysia.. Sampai jumpa lagi, Thailand. Semoga suatu saat saya bisa berkunjung kembali…😀

“Tak Boleh Pam”

Perjalanan yang panjang dari Perlis menuju Kuala Lumpur membuat kami harus menginap di Perlis dahulu. FYI, Selama di Malaysia saya tidak menemukan kesulitan yang berarti karena kendala bahasa, saya bolehlah cakap Melayu sikit. Hehee.. Hanya saja, kadang saya dan Bang Fazli mengalami gap bahasa. Bang Fazli sempat bercerita panjang lebar dengan logat Melayu yang kental dan tempo yang cepat, di akhir cerita saya mengerutkan dahi dan berkata “Maaf, saya x reti bang”, Bang Fazli pun terpaksa bercerita lagi dari awal… Hahaaa. Kasus lain, Bang Fazli beberapa kali tertawa ketika saya menyebutkan istilah dalam bahasa Inggris, katanya bahasa Inggrisnya orang Indonesia aneh, terutama pengucapan huruf ‘R’ yang begitu jelas. Rupanya orang Malaysia yang lain pun berpikiran sama (terbukti dari beberapa orang yang saya temui) :p.

Salah satu miskomunikasi yang saya ingat adalah ketika kami menyewa penginapan di daerah Perlis. Waktu itu kami menyewa ruangan dengan kamar mandi dalam. Saya sedang menonton televisyen dan bang Fazli masuk ke kamar mandi. Tidak lama kemudian Bang Fazli keluar lagi dan berseru  :

“Airnya tak boleh pam (pump)”

Saya kembali kebingungan

“Kenapa Bang”

“Ini airnya, tak boleh pam” Dia mengulangi..

“Tak boleh pam? saya tak faham nie”

Bang Fazli mengulangi kalimat yang sama, kemudian mengambil ember dan keluar kamar. Saya masih penasaran. Saya putar keran wastafel, tidak ada masalah. Saya cek shower, menyala… Bahkan pemanas airnya juga berfungsi dengan baik. Hmm.. semakin menarik saja teka-teki ini. Akhirnya kecurigaan saya tertuju pada kloset yang diam membisu di pojok ruangan. Saya pencet tombol siramnya, ternyata tidak menyala.. Owalahh.. Jadi ini toh maksudnya.

Bang Fazli masuk kembali ke kamar dengan membawa ember yang sudah terisi air sambil berkata

“Hotel ini tak best lah kamar mandinya”

“Kenapa Bang?”

“Ini airnya tak boleh pam”

“Maksudnya toiletnya tak boleh siram ya?”

“Ya itulah”

Hahaaa.. Sori bang.. saya gak ngerti. Tak boleh pam, Tak boleh pam, saya kira Pam-pam algojonya Tuyul dan Mbak Yul :p

2 thoughts on “CATATAN MALAYSIA + THAILAND 4 : Mambang Satul Mosque dan Insiden Pam

  1. “unyu banget *ada gak sih komentarku yang gak begini huhuhu*

    wah keren ya bisa menangkap sisi lain dengan nuansa Islami yang mungkin sebelumnya tidak menjadi bayangan kalau bakal ada…. *perhaps ya…

    hohoho yayaya berarti diriku cocok kali ya sama orang Malay… karena tak biso ambo mangecek huruf R dangan jalas huhuhu…

    bdw seperti terlihat dirimu masih terkontaminasi berbicara bahasa orang Malaysia nih hohoho”

    *comment crossposting dari MP ahahaha*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s