Journal

Tur Menara Petronas

Lanjutan dari cerita sebelumnya :  https://expareto.wordpress.com/2012/10/29/mencicipi-lrt-kuala-lumpur

Sesaat saya takjub dengan pemandangan di depan saya. Menara Petronas pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia ketika diresmikan oleh Perdana Menteri Mahathir bin Mohammad, sebelum akhirnya rekor tersebut dikalahkan oleh Menara Taipei 101 pada tahun 2003. Dengan tinggi 452 meter dan 88 buah lantai, Menara Petronas mendominasi pemandangan di Kuala Lumpur. Saking tingginya, kalau sedang berada tepat dibawah menara dan mendongak keatas, kita masih belum bisa melihat ujung menara tersebut. Di setiap menara terdapat 60.000 jendela yang dibersihkan secara berkala. Pasti bukan pekerjaan yang mudah untuk melaksanakan tugas ini.. Hahaa

Sebagaimana lazimnya turis, saya langsung mencari spot untuk mengambil gambar. Sebagai bukti kalau saya pernah kesini. Heheee. Spot yang paling banyak digunakan oleh para turis adalah di seberang air mancur di depan Menara Petronas, sekitar 100 meter dari menara. Pemilihan ini bukan tanpa alasan, karena di titik depan air mancur tersebut. Kita baru bisa mengambil gambar menara secara utuh dari atas sampai bawah. Kalau terlalu dekat bagian atas menara tidak bisa masuk ke dalam layar kamera.

Dibangunnya menara petronas pada dekade akhir abad 20 tidak lepas dari pertumbuhan ekonomi Malaysia pada saat itu, yang didukung dari harga minyak mentah yang melonjak naik dan keberhasilan Perdana Menteri Mahathir mentransformasi Malaysia dari negara agraris menjadi negara industri baru. Dr. mahathir memiliki visi “Wawasan 2020” yang mencanangkan malaysia akan menjadi negara maju (Developed Country) pada tahun 2020. Sebagai salah satu perwujudannya adalah membangun menara tertinggi di Dunia. Dimulai pada tahun 1991, dengan arsitek Cesar Pelli yang telah mendesain berbagai bangunan di seluruh dunia selama berpuluh-puluh tahun. Menara Petronas dirancang dengan memasukkan unsur islam dan tentu saja, ciri khas Malaysia. Desain menara petronas dibuat dalam waktu yang cukup lama, 8 bulan dan sempat mengalami deadlock. Sampai akhirnya Dr. mahathir sendiri yang mendapat ide untuk membangun menara dengan bentuk lantai bintang berujung delapan. Simbol yang lazim dalam kaligrafi Islam. Kemudian ditambahkan lingkaran di setiap perpotongan sisi bintang oleh Cesar Pelli sendiri (untuk mengakomodasi space ruangan yang diperlukan dalam membangun menara). Jadilah desain seperti yang kita lihat saat ini.  Sedangkan Skybridge di menara petronas melambangkan transformasi “The New Malaysia”.

Salah satu yang menjadi ekspektasi Dr. Mahathir adalah, ketika semua orang di seuruh dunia melihat Menara Petronas, maka pikiran pertama yang terlintas di benak mereka adalah “Malaysia”. Tampaknya harapan tersebut memang terwujud saat ini, Menara Petronas sudah menjadi Bangunan yang termahsur. Saya menjumpai turis dari berbagai negara dan etnis di sini. Mulai dari Cina, Singapura, India, Timur Tengah, Afrika, dan juga turis Eropa (Mat Saleh dalam bahasa Melayu).

Saya kemudian masuk ke dalam Mall Suria KLCC yang berada satu kompleks dengan Menara Petronas. Di dalam kompleks Suria KLCC juga terdapat Taman terbuka lengkap dengan Masjid, trek joging, dan kolam renang untuk anak-anak. Puas berkeliling di Suria KLCC, saya kemudian mencari lokasi untuk naik ke Skybridge. Karena tidak tahu lokasinya, saya bertanya kepada beberapa orang disana. Sebelumnya saya sudah diberi pesan agar sebisa mungkin jangan bertanya kepada Polis (Polisi) karena bisa-bisa kita akan dicurigai dan diinterogasi selama berjam-jam, apalagi kalau tidak membawa paspor, bisa semakin runyam urusannya. Yah, diakui atau tidak WNI sedikit banyak sudah meninggalkan kesan tersendiri bagi Polis Malaysia karena banyak Orang Indonesia bekerja di Malaysia tanpa dokumen yang sah, hanya berbekal paspor untuk berwisata.

Saya memutuskan untuk bertanya kepada Cleaning Service yang kebetulan lewat, Seorang  Wanita berusia sekitar empat puluh tahun. Saya yakin dia adalah warga negara Indonesia, dan ternyata memang benar😉. Kami sempat berbincang-bincang, awalnya beliau terkesan menghindar karena saya dikira wartawan yang sedang mencari bahan berita, gara-gara saya menenteng kamera, ditambah lagi saya bertanya menggunakan logat melayu (meskipun belum sempurna sih :p). Beliau baru percaya setelah saya jelaskan bahwa saya dalah orang Indonesia dan menunjukkan KTP serta Kartu mahasiswa yang saya bawa. Beliau berasal dari Malang dan sudah lima tahun bekerja di Malaysia. Menurutnya bekerja di sini lebih enak dan gajinya lebih besar, daripada di Indonesia. Saat ini data resmi menyebutkan bahwa ada sekitar dua juta TKI yang bekerja di Malaysia, umumnya bekerja di sektor informal. Kalau ditambah dengan pekerja ‘Tak resmi” mungkin jumlahnya sekitar empat juta jiwa. Saya sempat menunjukkan uang Rupiah kepada beliau, katanya sudah agak lupa dengan penampakan uang rupiah karena bertahun-tahun tinggal di Malaysia. Setelah bertanya arah kepada beliau dan bertukar nomer telepon, kami berpisah. Saya menuju ke tempat yang ditunjukkan.Bagi para backpacker dengan budget terbatas, saya menyarankan tidak perlu mencoba menaiki skybridge. Tiketnya mahalll… Pada awal-awal Menara Petronas dibuka untuk umum, pengunjung boleh naik ke Skybridge dengan percuma (gratis), kemudian setelah beberapa lama pengunjung dikenai tarif 30 Ringgit. Saat teman saya berwisata ke Malaysia bulan Februari 2012 harga tiket untuk Warga Negara Asing sudah mencapai 50 Ringgit. Bagaimana dengan saya?? Rupanya harga tiket sudah naik jadi 80 Ringgit (saat itu bulan Juli 2012). Untuk Warga negara malaysia sendiri harga tiketnya lebih murah, 30 Ringgit. Yah, karena tida tahu kapan lagi saya bisa kesini, saya pun mengikuti tur menara petronas ini dengan mengorbankan uang 240 ribu rupiah (1 Ringgit sekitar 3000 rupiah).

Herannya, meskipun dengan harga segitu, tiket tur Menara Petronas selalu habis setiap harinya. Saya sendiri baru mendapat giliran tur jam 3.15 sore waktu setempat. Padahal saya membeli tiketnya jam 11 siang. Jadi sisa waktu ini saya habiskan dengan berkeliling di sekitar KLCC (Kuala Lumpur City Center).

Ketika tur dimulai, salah seorang petugas memanggil para pengunjung yang membeli tiket untuk antri. Sebelum masuk para pengunjung diberi nametag dengan warna tali yang berbeda-beda, sesuai waktu kunjungan dan melewati detektor logam. Masuk ke ruangan berikutnya, semua tembok di ruangan tersebut ditutupi dengan kain berwarna hitam, tiba-tiba mesin pendingin yang  ada di depan kami mengeluarkan asap tipis. Asap ini rupanya berfungsi sebgai layar proyektor video yang diputar untuk menyambut pengunjung. Serasa menonton hologram, hehe.. kami kemudian dibawa ke lantai 86 Menara Petronas dengan menaiki elevator dan diberi waktu 15 menit untuk melihat-lihat pemandangan dari atas sini. Di Jendela saya bisa melihat puncak menara satu. Gedung-gedung di Kuala Lumpur terlihat seperti miniatur kota, apalagi mobil-mobil yang lalu lalang di depan

menara, terlihat seperti semut dari ketinggian 400 meter ini. Di menara sebelah jepretan lampu flash kamera otomatis yang terpasang di pinggir menara menyala setiap beberapa detik sekali. Mengabadikan gambar jalanan sekitar Menara Petronas. Ooo.. Jadi lampu flash ini yang menyebabkan Menara Petronas terlihat berkelap-kelip ketika malam hari🙂. Tidak lupa saya mengambil foto di tempat ini, mumpung ada kesempatan. Tentu saja dengan meminta tolong orang-orang yang ada di sekitar saya untuk mengambilkan gambar, yah.. nasib solo backpacker😀.

Puas mengelilingi lantai 86 menara petronas, perjalanan tur dilanjutkan dengan menuju skybridge yang terletak di lantai 41 menara. Pemandangan di sini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pemandangan di lantai 86. Di skybridge saya bisa melihat taman di kompleks Mall Suria KLCC. Skybridge juga salah satu ciri khas Menara Petronas, karena hanya sedikit Twin Tower yang memiliki
desain seperti ini. Ketika terjadi keadaan darurat di salah satu menara, skybridge berfungsi sebagai jalur evakuasi menuju ke tempat aman ke menara sebelah. Tur pun usai setelah 15 menit di skybridge. Saya langsung menuju pintu keluar dan menyempatkan diri mengambil beberapa gambar lagi. Masih di dalam menara, saya berjumpa lagi dengan Warga Negara Indonesia yang bekerja sebagai Supervisor Cleaning Service Menara Petronas, Seorang Pria yang berasal dari Sidoarjo. Dalam waktu singkat kami pun bercerita banyak hal, tentu saja beliau mengetahui daerah Surabaya dengan baik karena saat ini anaknya sedang kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di kota Pahlawan ini. Dari cerita beliau, ternyata semua petugas kebersihan di Menara Petronas berasal dari Indonesia. Woww.. Dari pengamatan saya, memang belum pernah saya jumpai pekerja di sektor informal yang merupakan Warga Negara Malaysia asli, (kecuali mungkin orang asing yang memiliki status Permanent Residence). Sebagai contoh petugas keamanan di kompleks perkantoran Bangsar South City, semuanya didatangkan dari Nepal. Selain Nepal, negara yang banyak mengirimkan tenaga kerja ke Malaysia adalah Phillipina, Thailand, Myanmar, dan India. Tapi tetap saja, orang Indonesia yang paling mendominasi, hehee.. Jadi komposisi etnis di Malaysia sangat bervariasi, tidak heran jika slogan pariwisata mereka adalah “Truly Asia”. Sementara Warga Malaysia sendiri lebih banyak bekerja di perusahaan-perusahaan, kantor, wirausaha, atau Kaki Tangan Negara (Pegawai Negeri Sipil).

Sejenak saya termenung. Media Indonesia akhir akhir ini gencar mengeluarkan pemberitaan negatif tentang TKI yang diperlakukan semena-mena (dan yang terbaru soal pamlet “TKI on Sale”), yang sukses menyulut kemarahan orang Indonesia yang berujung pada Demonstrasi besar-besaran (sampai demo anarkis). Kenyataannya semua TKI yang saya temui di sini mengatakan bahwa lebih senang bekerja di Malaysia, dibandingkan dengan di negara sendiri. Tidak sedikit dari mereka yang sukses. Kiriman uang ke kampung halaman bisa mencapai jutaan rupiah tiap bulannya. Jadi jangan heran kalau sektor jasa menyumbang puluhan trilyunan rupiah devisa negara setiap tahunnya, dari hasil pengiriman uang para TKI di seluruh dunia.

8 thoughts on “Tur Menara Petronas

    • Kalau kontroversi politisnya saya belum tau Bude.. tapi kalau secara engineering, ada hambatan dalam pembangunan menaranya.. Misalnya tiang-tiang penyangga gedung, karena tidak ada steel (besi), tiang penyangganya diganti dengan beton yang materialnya dicampur dengan serbuk silika.

      Tapi kalau pembangunan Kota Putrajaya (pusat pemerintahan Malaysia yang sekarang), ada yang mengatakan bahwa dana pembangunannya berasal dari Indonesia.. Waktu jaman Orde Baru..

      • Soalnya Yo, dlm pembangunan proyek2 mercu suar, biasanya ada kontroversi karena uang yg sangat besar utk pembangunannya. Dulu patung Liberty juga banyak diprotes pas baru didirikan. Sekarang malah jadi icon AS.

        Oh, dana dari Indonesia? Pinjaman ya?

      • Iya, saya rasa juga demikian Bude.. Hanya saja masih belum dapat berita/cerita tentang hal ini.
        Kalau Putrajaya, hmm… sepertinya bukan pinjaman,
        Dr. Mahathir dan alm. Pak Harto yang lebih tahu.. Heheee..

        Kalau proyek Lebuhraya (jalan tol) di Malaysia sempat ada kontroversi (kabar ini saya dapat dari orang sana). Ada beberapa pihak yang mengkritik pembangunan ini. Karena sudah ada jalan raya. Tapi setelah dibangun ternyata memang banyak manfaatnya..🙂.

  1. Mantaaabbb.. Mas,. awak nak pergi ke Kuala Lumpur bulan nih… bisa tak kasih no contact teman mu di Malaysia … hehehe.. jadi guide ku dong wahaah

      • Awal tahun kemarin harga tiketnya masih 80 ringgit. Akhirnya ngga jadi naik..😥
        Tapi cukup terobati kecewanya pas lagi di Putrajaya. Keren banget dah ini kota..🙂

      • Nothing to lose kok mbak, sebenarnya isinya juga cuma gitu-gitu aja, gak sebanding dengan harga 80 Ringgitnya. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s