Journal

Kawah Ijen, Pesona di Ujung Timur Pulau Jawa (1)

Liburan panjang dalam rangka peringatan Tahun Baru Hijriah 1434 H tahun ini saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kalli ini saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Kawah Ijen yang terletak di Kabupaten banyuwangi. Bersama dengan 7 teman lainnya, kami berangkat pada hari Kamis tanggal 14 November 2012 naik kereta api ekonomi Sri Tanjung dari stasiun Gubeng, Surabaya. Saat itu harga tiketnya Rp 30.000,00 per orang. Tiket tersebut sudah kami beli sejak seminggu sebelum keberangkatan, karena jika terlambat sedikit saja, pasti sudah kehabisan tiket. Kereta api yang kami naiki datang pukul 14.20, terlambat setengah jam dari jadwal yang ditentukan. Saya pernah menaiki kereta yang sama dua tahun yang lalu, dan ini adalah pengalaman kedua kalinya saya naik kereta api. Saya merasakan perubahan yang cukup drastis ketika menaiki kereta tersebut. Tidak ada penumpang yang berdiri, dan suasana kereta lebih bersih daripada dulu (meskipun beberapa sampah masih berserakan), sangat berbeda dengan kondisi dua tahun lalu, dimana saya seperti masuk ke dalam lautan manusia dan tidak kebagian tempat duduk karena sudah terisi penumpang sejak di stasiun Lempuyangan, Yogyakarta dan saya terpaksa berdiri (atau duduk di lantai) selama 9 jam :p. Di dalam tiket ekonomi juga terdapat nomer bangku penumpang, jadi kita tidak perlu khawatir kalau tempat duduk kita ditempati oleh penumpang lain. Hmm, tampaknya reformasi yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sudah menunjukkan hasilnya dan dirasakan oleh pengguna layanan ini, semoga kualitas pelayanan ini terus meningkat dan diikuti oleh penyedia jasa transportasi lain😀.

Sepanjang perjalanan kami berhenti di berbagai stasiun, dan setiap beberapa menit sekali Pedagang Asongan berjalan hilir mudik di sepanjang gerbong, barang yang mereka jual bermacam-macam, mulai dari snack, minuman, nasi bungkus, gunting, dan pisau. Di pemberhentian sekitar Lumajang dan Probolinggo, beberapa pedagang menjual buah Nangka yang sudah dikupas dan mangga. Para pengamen dan peminta-minta juga tidak kalah banyak. Yah, inilah seninya naik kereta ekonomi.

DSC_0921

 Kami sampai di Stasiun Karangasem, Banyuwangi pukul 21.20 malam. Di sana kami sudah dijemput oleh teman kuliah saya yang lain yang tinggal di Banyuwangi. Namanya Ganda. Teman saya ini juga membuka jasa tur ke tempat-tempat wisata di Pulau Jawa, seperti Yogyakarta, Bromo, dan tentu saja Kawah Ijen. Semua kliennya adalah turis asing dari berbagai negara seperti Perancis, Amerika Serikat, Singapura, dan India, situs tur wisatanya bisa dibuka di (http://ijencomdev.blogspot.com). Namun kali ini, kami diperlakukan seperti tamu kehormatan..😀. Kami menuju ke rumah Ganda dengan berjalan kaki selama dua puluh menit. Saat itu, jalanan sudah sangat sepi, sangat berbeda dengan suasana jalanan Surabaya di malam hari. Setelah menyusuri sawah kami sampai di rumah Ganda. Rumahnya lumayan luas, dengan empat kamar tidur. Di kiri-kanan jalan terhampar sawah yang ditanami padi yang mulai menghijau. Suara jangkrik bersahut-sahutan di malam hari menambah tenangnya suasana rumah tersebut di malam hari. Baru tiba di rumah Ganda, kami sudah disuguhi makan malam dan minuman dingin ditambah dengan keramahan Ayah dan Ibunya. Wahh, bagi kami ini jauh lebih baik dari fasilitas hotel bintang lima sekalipun.

Kami berusaha tidur cepat malam itu, karena harus pergi ke Kawah Ijen pagi-pagi sekali. Saya sendiri sudah bisa memejamkan mata pukul setengah dua belas. Pukul dua dini hari, alarm dari berbagai HP menyala, satu-persatu kami terbangun. Semua baru siap berangkat pukul 03.30 pagi. Perjalanan dari rumah Ganda ke kawah Ijen memerlukan waktu sekitar 1,5 jam. Kami sudah dijemput oleh mobil pick up yang dipesan sebelumnya dengan bak terbuka. Ketika naik samar-samar tercium bau sesuatu, saya yakin kalau mobil ini tidak hanya digunakan untuk mengangkut manusia. Tapi siapa yang peduli, yang penting aman dan bisa sampai tujuan.. Hahaaa..😀.

DSC_0922

 

Hari masih gelap, bahkan saat itu belum masuk waktu subuh. Bintang-bintang terlihat jelas dari sini, hal yang sulit ditemukan di kota-kota besar yang penuh dengan polusi cahaya. Selama perjalanan beberapa teman melanjutkan ritual tidur mereka, sedangkan saya sendiri memilih berdiri dan melihat-lihat keadaan sekitar. Beberapa perkampungan kami lewati, kemudian masuk ke dalam hutan kondisinya gelap gulita. Kata Ganda, kalau melewati daerah hutan ini harus hati-hati karena pernah terjadi beberapa kasus perampokan, tidak jarang para perampok ini juga melukai korbannya. Saya perhatikan jalan yang dilalui pick up semakin naik dan temperatur udara semakin rendah. Lama-kelamaan jalanan tidak semulus sebelumnya karena masih dalam proses perbaikan. Terlihat beberapa pekerja melakukan pengecoran. Rencananya Jalan tersebut akan digunakan sebagai jalur pada kompetisi sepeda balap Tour de Ijen yang dilaksanakan bulan Desember 2012. Ketika sampai di pemberhentian kami turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk mencapai jip, karena mobil pick up yang kami sewa tidak bisa melalui jalan yang rusak berat di depan. Matahari masih belum terbit saat itu. Kami sampai di lokasi Jip sewaan setelah dua puluh menit jalan kaki, terlihat beberapa teman sudah ngos-ngosan karena jalan yang menanjak. (Padahal ini belum naik ke kawahnya :p).

    Untuk menyewa mobil jip, kita perlu menyiapkan uang sebesar Rp 200.000 per mobil. Pada saat saya menyewa mobil rupanya 1 jip maksimal diisi oleh 5 orang penumpang, Sedangkan jumlah kami sembilan orang dan rencananya ingin berdesak-desakan dalam 1 mobil untuk menghemat biaya sewa (maklum, naluri mahasiswa rantau, haha). Perjalanan naik jip ternyata lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki (dan saya sarankan untuk tidak mencobanya :p ).
DSC_0925

Matahari sudah terbit ketika kami sampai di pemberhentian Paltidung dan menyempatkan diri Sholat subuh, meskpun boleh dibilang terlambat. Sebelum melakukan pendakian ke Kawah Ijen, ada baiknya kalau kita makan dulu, bisa membawa makanan dari rumah, atau membeli di warung di dekat situ. Karena pada saat pendakian, hampir bisa dipastikan kalau kita akan kelaparan, hehee. Saya sendiri membeli sarapan di warung terdekat dengan harga 8.000 rupiah plus minum teh hangat (Nasinya nasi campur, Rp 7.000 dan minumnya Rp 1.000). Di pemberhentian Paltidung kami membayar 5.000 rupiah per orang untuk naik ke kawah, sebenarnya ada biaya tambahan bagi yang membawa kamera, tapi berhubung Ganda sudah dikenal oleh petugas sana, jadi biaya kamera digratiskan, lumayan bisa sedikit berhemat.

bersambung….

7 thoughts on “Kawah Ijen, Pesona di Ujung Timur Pulau Jawa (1)

  1. Pingback: Kawah Ijen, Pesona di Ujung Timur Pulau Jawa (2) |

  2. Oya,
    tolong dong tips & trick naek mobil sendiri ke kawah Ijen, abis dengar2 musti ikut tour? Tapi saya pingin nyetir sendiri. Apa perlu mobil 4WD atau mobil seperti monovolum biasa juga bisa?
    trims

    • Kalau pakai mobil sendiri bisa kok Mbak/Mas (sori.. belum tahu cowok atau cewek.. haha)
      Lewat Bondowoso jalannya lebih bagus dan sudah diaspal. Mobil pribadi bisa masuk sampai di Pos Paltidung, kemarin pas kesana juga ketemu turis asing yang bawa mobil pribadi.. Tidak perlu pakai nyewa tur..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s