Journal

Kawah Ijen, Pesona di Ujung Timur Pulau Jawa (2)

Lanjutan dari cerita sebelumnya https://expareto.wordpress.com/2012/12/05/kawah-ijen-pesona-di-ujung-timur-pulau-jawa-1/)

Pendakian pun dimulai. Mula-mula jalan yang kami lewati tidak terlalu menanjak, kami berjalan dengan santainya sambil berfoto ria. Namun jalanan landai tadi hanya permulaan. Jalanan di depan seketika berubah menjadi curam. Ekspresi di wajah-wajah kami yang semula tersenyum lebar perlahan-lahan berubah seperti grafik persamaan linear (halah), digantikan dengan mimik muka kelelahan. Hal ini membuat kami banyak berhenti di beberapa tempat untuk beristirahat, atau menunggu teman yang lain beristirahat.

 DSC_0935

Sepertinya perhitungan saya untuk makan dahulu sebelum mendaki memang tepat, satu-dua orang teman yang tadi menolak ketika diajak sarapan terlihat kelelahan dan (katanya) kelaparan. Saat itu ada beberapa teman lain yang membawa biskuit (termasuk sayih 2 km, kami sampai di tempat peristirahatan Pondok Bunder. Di sana kami berjumpa dengan beberapa penambang Belerang yang juga sedang beristirahat. Beberapa teman memebeli makanan dan minuman untuk mengganjal perut di warung yang terletak di Pondok Bunder. Saya sendiri tidak ikut membeli makanan, jadi mohon maaf tidak bisa memberi info harga di sana, hehe.

Puas melepas penat untuk kesekian kalinya, kami melanjutkan perjalanan untuk 1 kilometer berikutnya. Sepanjang perjalanan ini teman-teman (terutama teman-teman cewek) bertanya berkali-kali, sudah sampai atau belum. Sebanyak itu pula Ganda, yang menjadi tour guide menjawab, sebentar lagi sampai. Meskipun kenyataannya masih jauh. Setelah beberapa menit yang menyiksa. Kami sampai di kawah Ijen😀.

DSC_1034

Sayangnya ketika sampai di puncak, kabut masih menutupi kawah di bawah sana. Sebenarnya ganda ingin mengajak kami untuk turun sampai di tempat para penambang, tapi mengingat di rombongan kami ada 3 cewek ayng sudah tidak kuat berjalan lagi, dan medannya cukup berbahaya. Kami harus puas menikmati keindahan Kawah Ijen dari atas.

Lama kelamaan kabut mulai menipis dan kami bisa melihat kawah dengan air berwarna turquoise. Kawah seluas 1 km persegi ini mengundang decak kagum bagi siapapun yang melihat untuk pertama kalinya. Di sisi lain di seberang kawah, terhampar tebing yang diselimuti rumput-rumput hijau, menyajikan pemandangan yang tidak kalah menarik. Wajah-wajah kelelahan kami langsung berubah ketika memandang panorama spektakuler ini.

DSC_1047Sementara kami mengabadikan gambar, para penambang beberapa kali lewat di sekitar kami. Memikul keranjang berisi belerang kira-kira seberat 70 kilogram. Sementara satu kilogramnya dihargai sekitar 600 rupiah. Saya tidak bisa membayangkan betapa beratnya kerja mereka. Kami yang baru mendaki tanpa memikul sesuatu saja sudah ngos-ngosan, apalagi mereka. Belum lagi resiko menghirup asap dari kawah ijen yang berbahaya bagi kesehatan sekalipun memakai masker. Sedangkan mereka hanya menutup hidung menggunakan kain basah. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah salah satu pekerjaan paling berisiko di dunia. Tentu saja, aktivitas ini mereka lakukan setiap hari.

Kita juga bisa membeli suvenir dari penambang. Mereka membuat cetakan belerang dengan bentuk bermacam-macam. Salah seorang penambang menawarkan 3 macam suvenir dengan harga 5000 rupiah, itupun masih dapat bonus saya lagi. Harga yang sebenarnya tidak sepadan dengan usaha untuk mendapatkannya.

Ada beberapa rombongan lain yang sampai di sini selain kami. Ada rombongan wanita muda yang sepertinya berasal dari Singapura, pasangan berhidung mancung dan berkulit gelap yang saya yakin dari India, kemudian seorang laki-laki paruh baya bersama anaknya yang berusia sekitar sepuluh tahun dengan wajah Eropa. Ditambah lagi dengan kelompok-kelomok lain yang kami jumpai sepanjang perjalanan. Rombongan dari Indonesia sendiri juga lumayan banyak. Sebenarnya Kawasan Wisata Ijen memiliki potensi yang luar biasa. Antusiasme wisatawan bisa dikatakan bagus. Mengingat sarana dan prasarana di Ijen sendiri masih terbatas. Kalau saja akses jalan dari arah Banyuwangi menuju Ijen diperbaiki sejak dulu, penginapan di sekitar Ijen diperbanyak, dan promosi kawasan wisata digiatkan, saya yakin Kawah Ijen akan menarik wisatawan jauh lebih banyak daripada sekarang.

DSC_0040

Kami berada di kawah Ijen selama kurang lebih satu jam (sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengambil foto). Sampai akhirnya kami memutuskan untuk turun ke pos Paltidung. Perjalanan kembali lebih lancar karena medan yang kami tempuh adlah jalanan menurun. Beberapa kali kami menjumpai hewan-hewan penghuni hutan hujan di kawah Ijen, yang paling menyolok adalah monyet berbulu oranye yang bergelantungan di pohon. Ganda mengatakan kalau beberapa waktu sebelumnya dia bahkan menjumpai Harimau, ketika dia menemani turis dari Eropa. Sampai di pos Paltidung, perjalanan dilanjutkan dengan naik jip dan dioper lagi ke Pick up yang kami naiki dini hari sebelumnya. Masih dengan bau khas yang sama. Heheee. Atap pick up yang terbuka memaksa kami berlindung dari sengatan matahari banyuwangi yang terik, dengan meringkuk di balik jaket. Di atas pick up masih banyak yang sempat tidur (termasuk saya :p ). Kami kemudian sampai di rumah Ganda sekitar tengah hari (dan sudah disambut dengan hidangan makan siang :p ).

Rombongan kembali ke Surabaya keesokan harinya naik bus, karena kami kehabisan tiket kereta ekonomi. Dari Terminal Banyuwangi ke Probolinggo kami naik Bus dengan harga tiket 18 ribu. Kemudian dilanjutkan dengan naik Bus Patas ke Terminal Purabaya. Harga tiketnya 56 ribu rupiah. Kami sampai di terminal Purabaya sore harinya, langsung naik komuter ke stasiun Gubeng. Karena sepeda motor kami masih ada di tempat parkir sana. Satu lagi perjalanan luar biasa yang bisa saya tuliskan di sini. Terima kasih banyak kepada Ganda dan Keluarga yang bersedia kami repotkan dengan banyak hal selama 3 hari. Semoga kebaikan kalian dibalas berlipat ganda oleh Allah SWT🙂.

4 thoughts on “Kawah Ijen, Pesona di Ujung Timur Pulau Jawa (2)

  1. blom lama nonton di natgeo soal kawah ijen itu, masih banyak anakanak yang mengambil belerang disana.. dengan berpakaian seadanya.. setiap hari isap belerang kan bahaya tuh..

    • Yoa Mbak, kalau kena paparan uap belerang bisa memicu kanker paru-paru… Tapi ya, tampaknya tidak ada pilihan lain😦. Kalau potensi pariwisata Kawah Ijen dimaksimalkan pasti bisa jadi sumber penghasilan lain bagi penduduk sekitar.
      Mbak Tintin pernah kesini? hehee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s