Journal

Don’t Judge the Bread Just From it’s Cover

Sebenarnya ini postingan tidak penting. Jadi kalau tidak ada waktu luang untuk membaca tulisan saya, silakan close tab.. :p

Ini adalah pengalaman yang terjadi tadi pagi (2 April 2013) ketika saya kelaparan di pagi hari dan mencari sarapan. Saat itu jam 10 lebih. Biasanya saya makan di kantin Halal yang baru buka sekitar jam setengah 11.

Berhubung kantin halal belum buka, saya memutuskan untuk pergi ke toko roti (mirip bre*dtalk) meskipun tidak seenak yang satu itu. Tapi lumayanlah buat mengganjal perut. Seperti halnya mencari makanan di tempat-tempat lain di Taiwan. Mendapatkan makanan halal memang gampang-gampang susah. Orang Taiwan sangat toleran dan tidak segan-segan membantu kita kalau ingin tahu makanan yang akan kita makan halal atau tidak (terutama jika makanannya mengandung babi). Tapi tetap saja, pilihan makanan masih terbatas. Beberapa roti yang dijual ada yang roti isi daging (yang tidak bisa saya makan). Jadi saya memilih roti yang kira-kira kandungannya hanya gula, coklat, susu, atau keju.

Pilihan saya tertuju pada roti berwarna putih bertotol-totol hitam yang penampilannya menggoda. Wah, sepertinya isinya coklat nihh.. :p. Setelah membayar 25 NT (1 NT kira-kira 340 rupiah), saya membeli minuman di 7 elev*n di seberang toko roti. Melihat roti yang masih hangat dan mencium aromanya yang menggairahkan, ditambah perut yang lapar membuat saya semakin bernafsu menyantap roti mirip coklat tadi. Dengan satu gigitan besar, roti tersebut saya nikmati dengan sukses. Hmm.. rasanya enakk, ada rasa coklat dan susu (entah saya tidak tahu komposisi pastinya, pokoknya enak..  :p).

Image

Penampakan luar roti (setelah disimpan selama 7 jam di saku jaket)

Namun baru satu gigitan, saya tidak sengaja melihat isi dalam roti. Denggg… Ternyata isinya daging… Untungnya saya tidak sempat menggigit isi dagingnya, meskipun ada sedikit rasa menyesal karena saya menyadari terlalu cepat. Entah dari hewan apa daging tersebut berasal. Meskipun itu daging sapi atau ayam, saya tetap tidak bisa memakannya, karena belum bisa memastikan apakah hewan tersebut digorok dengan cara islami atau tidak (dan kemungkinan besar tidak).

Image

Penemuan daging dalam roti, hingga kini jenis daging tersebut masih belum bisa dipastikan

Kebetulan, kantin halal sudah buka, jadi saya makan di kantin. Tapi saya masih tidak tega meninggalkan roti yang sudah digigit tadi. Jadi saya bawa di saku jaket sambil memutuskan mau saya apakan nanti. Tadinya saya berencana memberikan roti tersebut kepada teman-teman lokal (Mahasiswa Taiwan). Tapi siapa sih yang doyan makan roti yang sudah digigit?? Akhirnya setelah teronggok di dalam saku jaket seharian, dengan berat hati saya membuang roti tadi ke tempat sampah.

“Bye-bye roti bintik-bintik, meskipun tidak bisa dimakan dan menjadi mubazir, tapi riwayatmu masih terkenang dalam tulisan tidak penting ini” :’)

21 thoughts on “Don’t Judge the Bread Just From it’s Cover

    • Mosok roti dimasak pakai minyak babi nil?
      Nek iki parah dah.. haha.
      Paling juga cuma dimasukkan ke microwave, gak pake digoreng..🙂

  1. daku sih pasti makan deh dan ntar aja kalu pengen tahu isinya apa.. yang penting bismillah.. males mikir haram halal..
    dan bintikbintik itu wijen hitam.. ga penasaran tanya isinya sama temen lokal?

    • Belum sempat tanya sih mbak, soalnya saya simpan di kamar terus. Gak enak kalau kuliah bawa-bawa roti yang sudah digigit… haha…
      Yang jelas isinya daging, dsan dari teksturnya saya yakin kalau itu bukan daging ikan..🙂

    • bukan rotiny masbro. tp isinya, nggorengny pake apa. itu kan kudu d perhatikan. sm kayak yg jual sandwich d sebelahnya. bbrp emang d microwave, tp g semua. dl pernah ada yang tanya gt. sebenarnya kadang d kasih tau kq sama yang jual. kalo kamu krg jelas tanya aja bisa

    • Wahh, akhirnya dirimu muncul juga Uda..
      Nangdi ae Nas??
      Masalahnya kalau isinya Babi, otomatis bagian lainnya terkontaminasi Nas, dan tidak boleh dimakan. Sebenarnya saya ada niatan seperti itu, tapi kalau dipikir-pikir lagi kok yaa.. cek nemen e… Hahhaa

  2. Sama dengan di sini, Yo, kalau makan apa2 harus ekstra hati2. Kalau makan yang digoreng2 juga harus tanya dulu, apa itu pakai minyak babi (lard) atau bukan. Meskipun aku bukan yang strict harus zabihah, tapi tetap berusaha memperhatikan apa yang dimakan karena takut deh akan konsekuensinya. We are what we eat. Itu aja pernah juga kesandung-sandung kayak kasusmu ini…makan cereal eh tahunya ada gelatinnya, padahal udah ditelusuri tuh bahan2nya satu2, tapi kecolongan juga. Gimana kalau gak peduli, bisa lebih parah lagi tuh kontaminasi bahan gak halalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s