Journal

Dari Bangunan Sultan Iskandar Menuju Queen Street

lanjutan dari cerita sebelumnya  https://expareto.wordpress.com/2013/04/20/tertahan-di-imigrasi-singapura/

Dengan perasaan cemas saya duduk dan menunggu. Rupanya ada beberapa orang yang juga ditahan di imigrasi. Diantaranya satu keluarga dari Syiria yang sudah menunggu lebih dari satu jam. Mereka terlihat sangat gusar karena disuruh menunggu sekian lama. Saya membatin, jangan-jangan saya akan mengalami nasib serupa. Lebih buruk lagi, mungkin ditahan di penampungan imigran gelap dan dideportasi. Setelah menunggu sekitar 20 menit. Seorang petugas memanggil nama saya dan dia meminta saya untuk masuk ke ruang interogasi. Di dalam ruang interogasi, dia mengambil sidik jari saya lewat scan computer, lalu meminta saya mengeluarkan KTP dan SIM. Setelah itu dia mengajukan beberapa pertanyaan mengenai nama, tempat tinggal, dan pekerjaan. Proses interogasi ini hanya memakan waktu sekitar lima menit. Setelah selesai, saya kemudian bertanya

“Is there anything wrong?”

“No, we only want to check your identity”

Jawab petugas tadi.

Mungkin ada setengah jam lebih saya ditahan di kantor imgrasi. Sehingga saya cukup yakin kalau Kak Siti sudah berangkat lebih dahulu, dan ternyata benar. Akhirnya saya kembali sendirian dan menunggu bus datang. Kalau naik bus melintasi perbatasan Malaysia-Singapura, kita harus mengingat kode bus yang kita naiki. Karena saya tadi naik bus nomor 170, maka saya harus menunggu bus dengan kode sama. Karena bus yang saya tumpangi sebelumnya sudah berangkat duluan ketika saya masih ditahan di kantor imigrasi.

Selang beberapa menit, saya sudah berada di dalam bus 170 SBS Transit. Akhirnya saya masuk ke Singapura untuk pertama kalinya. Saya melihat ke kiri kanan jalan. Jalur untuk pejalan kaki sangat lebar dan tidak ada pedagang kaki lima satupun. Jalan raya yang saya lalui sangat bersih (apa ada yang menyapu jalan raya nya ya??). Ketika bus membawa saya lebih masuk ke dalam kota (negara), banyak proyek pembangunan gedung yang sedang berlangsung. Indikatoe yang menunjukkan kalau ekonomi negara ini tumbuh pesat.

Di beberapa bagian jalan terdapat reklame berbunyi “Happy National Day Singapore”. Ternyata Singapura sedang memperingati hari jadinya yang ke 49.

DSC_0425

Pada zaman kolonialisme, Thomas Stanford Raffles menyewa wilayah Singapura (dahulu disebut Temasek atau Tumasik) dari Sultan Johor, kemudian menjadikannya sebagai pusat pelabuhan di Selat Malaka. Ketika Inggris melepaskan jajahannya di wilayah Asia Tenggara, Singapura tergabung ke dalam Federasi Malaysia bersama dengan Sabah dan Serawak pada tahun 1963. Namun dua tahun setelahnya, Singapura keluar dari Federasi dan menjadi menjadi negara penuh. Lepasnya Singapura dari Malaysia inilah yang sampai sekarang diperingati sebagai “Singapore National Day”.

DSC_0430

Saya memperhatikan sudut-sudut lain. Hampir semua pengumuman yang tertulis di sini, baik di bus, pemberitahuan perbaikan jalan, pengumuman di MRT ditulis dalam empat bahasa : Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil. Orang Singapura sendiri biasanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari (yang disebut Singlish atau Singapore-English). Hal ini bukan tanpa alasan. Karena komposisi penduduk Singapura terdiri dari berbagai macam ras dengan tiga kelompok besar : Cina, Melayu, dan India. Ditambah dengan para ekspatriat dari berbagai negara yang jumlahnya mencapai lebih 30% dari total penduduk Singapura. Karena itu mereka menggunakan bahasa Inggris untuk mempermudah komunikasi.

Mau Menyebrang Jalan

Perjalanan di dalam bus memberikan saya waktu cukup lama untuk melihat-lihat pemandangan negara dengan GDP per kapita terbesar ketujuh di dunia ini. Bus SBS transit 170 membawa saya ke pemberhentian terakhir di Queen Street. Jangan dibayangkan kalau Terminal Queen Street adalah bangunan megah dan megah seperti KL Sentral atau Taipei Main Station. Terminal Queen Street lebih terlihat seperti lapangan kosong yang dijadikan tempat parkir bus. Saya kemudian celingukan seperti orang hilang (memang ada benarnya). Kak Siti sempat memberitahu saya kalau Terminal Queen Street berada dekat dengan Masjid Sultan. Tempat tujuan yang sangat tepat untuk para pencari takjil gratisan seperti saya😉. Saya bertanya arah kepada salah satu orang yang saya jumpai di jalan. Dia menyuruh saya untuk terus. Sekitar 5 menit berjalan, akhirnya saya menemukan Masjid bersejarah di negeri mini tersebut.

To be continued

11 thoughts on “Dari Bangunan Sultan Iskandar Menuju Queen Street

    • Somehow, sejak kejadian di imigrasi itu, persepsi saya tentang Singapura langsung berubah drastis,
      Sebenarnya ada keinginan ke sana lagi, tapi tidak terlalu bernafsu. Secara pribadi saya lebih suka Kuala Lumpur. hehee..
      Pak Iwan pernah mengalami hal yang sama juga ? 😀

      • Pernah, pas urusan customer complaint, saya gak nyadar kalo passport saya tinggal 4 bulan lagi expired, memang di Spore berlaku gak boleh kurang dari 6 bulan menuju expired. Jadi, lama lah saya diproses di imigrasi. Padahal sudah saya tunjukin surat bukti undangan dari customer untuk datang ke kantornya. Menyebalkan😦

      • Tampaknya memang banyak yang mengalami kejadian serupa ya Pak.. hehe
        Apa mungkin pihak imigrasi Singapura juga punya kesan yang kurang baik dengan orang Indonesia karena banyak buruh ilegal yang masuk?😀

      • harus yang ngundang yang datang deh mas kalu gitu, biar dibebaskan.. emang nyebelin.. kayanya bukan singapor aja yang kudu lebih dari 6 bulan expirednya.. jadi ngapain disiapkan 6 bulan ya? emang kita mo tinggal lama disana? bete aja kalu disangka jelek sama tamu yang mo didatengin..

      • Hahaa. kok jadi tempat pengaduan korban penahanan imigrasi gini mbak..
        Setahu saya bukan hanya Singapura yang menysaratkan maksimal 6 bulan sebelum expired, di Taiwan juga sama.. Tapi pas masuk imigrasi Taiwan lancar jaya. Padahal awalnya saya pikir bakalan sama dengan di Singapura :p

      • Hai Haryo Wicaksono… Saya org Malaysia. Haryo harus mengertu bahwa Singapura itu negara kecil dan negara pulau. Biasanya, negara-negara seperti itu, aturan imigrasinya terlalu ketat. Buat pengetahuan kamu, Selain Singapura, negara Brunei Darussalam juga harus mengisi Pas/Daftar Masuk seperti di Singapura seperti biodata saudara, tujuan dll. Di Malaysia, hal ini juga berlaku jika anda memasuki bagian Borneo Malaysia (Sarawak, Sabah dan Labuan). Ini karena negara bagian tersebut berada di pulau dan aturan imigrasinya berlainan. Bahkan saya warganegara Malaysia di bagian Semenanjung Malaysia (Kuala Lumpur, Johor, Penang, Kedah, Terengganu dll) harus mematuhi undang2 disana di mana kami harus mengisi Pas/Daftar Masuk di negara bagian disana walaupun ia berada di Malaysia. Di Indonesia saya tidak pikir ini berlaku karena Negara Indonesia itu besar walaupun 100% negara pulau.

      • Well, saya faham dengan aturan isi pas Pakcik, kat Taiwan pon sama. Hanya saja, di Singapore aturannya lebih ketat. Kemungkinan untuk ditahan oleh petugas imigrasi lebih besar.
        Kalau wilayah Malaysia timur saya maklum, kerana ada latar belakang sejarah. Wilayah Sabah dan Sarawak baru bergabung ke Federasi Malaysia tahun 1963 dengan persekutuan tanah Melayu, kerana itu mereka punya policy sendiri.

        Apa kabar pilihan Raya Malaysia, pakcik? BN ke PR yang menang?😀
        Terima kasih sudah mampir. Nice to meet you.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s