Journal

Gugurnya Toko Tentara

Pada suatu hari, terjadilah percakapan antara dua orang :

“Ayo nang toko tentara?”

“Lapo?”

“Tuku beras, iki berase entek”

“Yo wes, sekalian aku tuku sarden sisan”

Bagi orang awam, mungkin percakapan tersebut lazim ditemui di tanah Jawa, lebih spesifik lagi daerah Surabaya dan sekitarnya. Tapi percakapan tersebut juga lazim di temui di Taiwan, lebih khusus lagi di kampus tempat saya belajar sekarang (NTUST).  Yah, dengan jumlah mahasiswa Indonesia sekitar 200 orang, dan sebagian besar dari Jawa percakapan seperti diatas tidak sulit untuk ditemui, apalagi kalau membicarakan “Toko tentara”

Bagi Mahasiswa Indonesia di NTUST, nama toko tentara tentu tidak asing. Saya jamin hampir semua mahasiswa Indonesia di NTUST pernah ke sana, paling tidak satu kali.  Saya masih ingat pertama kali ke toko tentara sekitar bulan Februari 2013 bersama teman Indonesia lain, hanya untuk mengetahui seperti apa penampakan toko tentara. Waktu itu kami naik sepeda dan perjalanan ke sana ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit. Kalau misalnya terlalu capek (atau malas) naik sepeda, biasanya kami naik bus yang lewat pas di depan kampus dan berhenti di halte MRT Liuzhangli Station.

Banyak barang kebutuhan pokok mahasiswa yang dijual di sini. Toko tentara menjadi langganan teman saya untuk membeli beras, karena dia berhasil menemukan beras dengan harga paling murah (kualitas nomer dua, yang penting bisa dimakan). Kalau ingin mencukupi kebutuhan nutrisi, kita bisa membeli bermacam-macam susu bubuk dan kental manis di sini (sampai sekarang saya belum pernah beli). Ada juga berbagai jenis makanan kaleng (ada satu sarden yang menurut saya paling enak yang pernah saya temui di Taiwan, meskipun saya tidak tahu apa merknya :p). Ada Indomie jumbo (ya, memang indomie jumbo) dan berbagai macam mie instan dari berbagai negara, temasuk Taiwan dan berbagai macam produk sembako lain. Kalau naik ke lantai dua toko. Kita bisa menemukan barang-barang rumah tangga mulai dari sapu, sabun cuci, keset, sikat gigi, obat nyamuk, shampoo, sabun mandi, sampai daleman. Pendek kata, segala macam kebutuhan mahasiswa rantau bisa kita jumpai di toko tentara.

Saya rasa, tidak berlebihan kalau saya menyebut tempat ini sebagai salah satu tempat legendaris bagi mahasiswa Indonesia di NTUST. Jika dibandingkan dengan toko lain, toko tentara menjual dengan harga yang lebih murah dan letaknya tidak jauh dari kampus. Kalau misalnya kami kehabisan beras atau ingin membeli cairan pembersih lantai, pasti toko tentara menjadi pilihan nomer satu. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah “Toko tentara”. Tapi saya yakin nama asli tokonya bukan itu (sampai sekarang saya tidak tahu nama aslinya, karena masih belum baca tulisan mandarin -_-). nama toko tentara diambil dari iklan perekrutan tentara di depan toko yang menampilkan gambar-gambar pasukan militer. Dan kalau saya tidak salah info, toko tentara sebenarnya memang semacam koperasi untuk tentara dan pihak-pihak yang terkait.  .

Toko tentara

Penampakan toko tentara siang hari, gambar diambil dari google map

Mungkin bagi mahasiswa yang sudah lulus, tempat ini menjadi salah satu tempat kenangan. Toko tentara ada saat kami membutuhkannya (halah). Namun sayangnya, generasi mahasiswa rantau selanjutnya mungkin tidak bisa lagi berbelanja di toko sebelah markas militer tersebut. Kabar mengejutkan datang baru-baru ini, saya diberitahu oleh seorang teman kalau toko tentara tidak lagi dibuka untuk umum (termasuk mahasiswa). Sekarang toko tentara hanya melayani para member tertentu dan harus menunjukkan kartu anggota ketika berbelanja (besar kemungkinan untuk menjadi member, kita harus mendaftar sebagai tentara di Taiwan, atau menjadi anggota keluarga tentara di Taiwan, atau menjadi pensiunan tentara di Taiwan).

Yah, mungkin sekarang kami harus menemukan destinasi baru untuk mencukupi kebutuhan kami. Tapi meskipun sudah pindah ke toko lain. Toko tentara selalu menjadi kenangan yang tidak terlupakan ketika saya kembali ke kampung halaman nanti.

23 thoughts on “Gugurnya Toko Tentara

  1. wah wah yang udah nemu toko langganan dan sepertinya susah berpaling hati *ahahay

    sama sih, aku juga termasuk yang kalau udah nyaman dengan suatu toko ya jadinya ke sono mulu belinya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s